Selasa, 04 November 2014

Di Balik Sebuah Pintu

Suasana kamar nomor 203 itu nampak mencekam. Aku terduduk lemas mencoba mereka-reka apa saja yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Sebuah pistol masih tergenggam erat di tanganku. Nampak terkapar bersimbah darah di depanku, Beni calon suamiku.

* * *

Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang temanku disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna. Wajah cantik, keluarga yang mapan, dan satu yang paling membuat banyak orang merasa iri adalah Beni, calon suamiku itu memang menjadi rebutan banyak wanita. Seorang pengusaha muda, sukses, tampan, dan dia sangat mencintaiku; paling tidak itu yang aku tahu.

Hari pernikahanku sudah dekat, segala persiapan sudah mendekati tahap akhir. Sebuah pesta pernikahan yang sesuai dengan mimpiku sedari dulu. Memang sih sebagian besar persiapan pernikahan kami aku yang mengaturnya. Bukannya Beni tidak mau membantu, tapi pekerjaannya seakan menenggelamkannya dalam lautan kesibukan. Aku maklum.

* * *

"BENI ITU BAJINGAN, TINGGALKAN DIA RANI SEBELUM SEMUA TERLAMBAT!!"

Kurang lebih seperti itulah beberapa pesan singkat yang akhir-akhir ini sering kuterima di ponselku. Nomor asing dan tak ada seorang temanku pun yang tahu siapa itu. Aku anggap saja itu hanyalah sebagai cobaan dan godaan untukku, kata orang-orang jika seseorang sudah mendekati pernikahannya pasti ada saja cobaannya. Aku coba untuk menutupi hal itu dari Beni, aku tak mau meribetkannya dengan urusan remeh temeh semacam ini.

Semakin hari pesan-pesan itu semakin banyak masuk ke ponselku, deringan panggilan masuk pun seakan menjadi teror bagiku di setiap malam. Seminggu lagi hari pernikahanku, aku tak tahan lagi. Kucoba membalas pesan orang itu.

"Siapa kamu? mana buktinya kamu menuduh calon suamiku seorang bajingan?!!"

"malam ini datanglah ke Hotel Wijaya, akan kubuktikan semua kata-kataku"

Aku sedikit bimbang, kuturuti atau tidak orang itu. Tapi sudah kumantapkan hatiku, aku harus menyelesaikan semua ini. Segera ku bergegas ke ruang kerja ayahku, kuambil pistol ayah yang selalu disembunyikannya di bawah laci meja untuk berjaga-jaga. Aku tahu ayah memang selalu menaruh sebuah pistol di bawah lacinya, pekerjaannya sebagai seorang pengacara terkadang menempatkannya pada sebuah kasus yang punya resiko tinggi. Oleh karena itu ayah selalu berjaga-jaga.

* * *

Mobilku sudah berada di depan Hotel, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku, "Kamar nomor 203".
Dadaku berdegup kencang, tak dapat kubayangkan gerangan apa yang akan kujumpai di balik pintu kamar itu nanti. Kulangkahkan kakiku. Lift membawaku ke lantai 5, kamar itu ada tepat di samping lift. Kuberanikan untuk mengetuk pintu kamar itu.

"Room service"

Pintu terbuka, terlihat di depanku Sherly sahabat karipku berdiri memakai gaun tidur warna biru.

"RAA... RAA.. RANI..."

Langsung kupaksakan tubuhku menerobos masuk ke dalam kamar itu, sebuah pemandangan yang benar-benar tak pernah kuduga. Beni tertidur di ranjang dengan hanya tertutupi selimut. Kepalaku seakan berputar hebat, dadaku seakan meledak.

"BAJINGAN KAMU MAS!!!

Apa yang terjadi setelah itu sudah bisa ditebak, aku dan Beni bertengkar hebat. Entah setan mana yang merasuki tubuhku, yang pasti kini tiga buah peluru dari pistol yang kugenggam telah berpindah tempat ke dalam dada Beni. Sherly hanya bisa berteriak histeris di sudut kamar. Mulutnya tak henti-hentinya meminta maaf padaku.

Suara sirine polisi membuyarkan lamunanku. Segalanya nampak seperti sebuah mimpi buruk bagiku. Semua mimpi yang aku bangun selama ini hancur dalam semalam.

* * *

Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna, dan aku tak pernah menyesali apa yang telah aku lakukan.

(diponk)
»»  READMORE...

Rabu, 09 Juli 2014

Indonesia, Dewasalah

Gegap gempita pesta demokrasi di negeri ini hampir menemui titik puncak. Proses pemilihan presiden langsung oleh rakyat sudah terlaksana pagi ini. Tapi polemik bukan berarti terhenti disini, cerita-cerita lucu terkait hasil quick count yang simpang siur antara lembaga survey yang satu dengan yang lainnya justru menjadi suatu babak baru dari sebuah drama yang seakan tak berakhir. Semua kubu mendeklarasikan kemenangannya. Tak ada yang kalah, lucu.

Ada sebuah celetukan dari obrolan warung kopi yang cukup menggelitik.
"Bagi saja negaranya jadi dua"
Terdengar lucu atau malah terdengar gila, tapi bukan berarti hal ini tidak mungkin terjadi. Kerajaan Mataram dulu juga terpecah menjadi dua akibat dari konflik perebutan kekuasaan. Raja keraton Surakarta sampai sekarang juga ada dua. Naudzubillahi min dzalik.

Kini pertandingan seakan memasuki babak adu penalty, kedua kubu ibarat dua kesebelasan sepakbola yang menunggu siapa yang menang melalui hasil rekap KPU yang resmi. Bolehlah mereka gembar-gembor menyatakan kemenangan, tapi alangkah baiknya jika mereka juga menunjukkan kerendahan hatinya dengan menyatakan untuk siap kalah. Legowo.

Marilah kita bersikap dewasa, tak ada gunanya kita bersitegang untuk suatu hal yang harusnya menjadi kebaikan bagi kita semua. Kalau sampai terjadi chaos, rakyatlah pasti yang menjadi korban. Terlepas dari siapakah nanti yang "benar-benar menang" dalam drama adu penalty ini, harapan saya kepada presiden yang baru adalah jadilah pemimpin yang baik dan bawalah bahtera bernama Indonesia ini ke arah yang benar.
»»  READMORE...

Sabtu, 07 Juni 2014

Terus Belajar dan Jangan Berhenti Berkarya

Hidup ini ibarat sebuah kebun buah yang tak pernah mengenal musim panen. Setiap hari selalu saja ada pelajaran yang bisa kita petik dalam hidup ini.

Bertemu dengan orang-orang hebat yang baru selalu mengingatkanku bahwa aku belum jadi "apa-apa" dalam hidup ini. Sejenak lupakanlah negara dan teruslah berkarya.


(ngendid @rasarab lagi bikin postingan di Hotel Atlet Century Senayan Jakarta)
»»  READMORE...

Jumat, 06 Juni 2014

Sepenggal Cerita Senja

...akulah senja yang setia di ujung peron kereta. menanti kedatanganmu kembali ke asal mula.

...akulah janji yang tak pernah mengenal kata lupa. walaupun di hatimu kini tak ada lagi kata setia.

(diponk)

»»  READMORE...

Jumat, 11 April 2014

Bengawan Sore #9

Sore itu berjalan seperti biasa, secangkir kopi dan sebuah notebook menemaniku menghabiskan waktu selepas pekerjaan di kantor. Jalanan kota Amsterdam makin ramai oleh kaum pekerja yang hendak pulang. Terdiam aku memandangi hamparan bunga berwarna peach di pelataran kafe tempatku menyendiri. Kanal-kanal yang tak pernah sepi itu seakan selalu menarik bagi pandanganku.

"ora kroso wis sepuluh taun aku neng kene, wis wayahe aku mulih"

Sudah kumantapkan dalam hati, aku akan kembali ke Indonesia. Bukannya aku bosan dengan pekerjaanku sebagai kepala teknisi di sebuah perusahaan perkapalan di kota ini, tapi jika melihat kondisi ibu yang semakin tua aku tak tega untuk tak menemaninya lagi.

Beberapa hari kemudian segera aku mengajukan permohonan resign dari perusahaan tempatku bekerja. Pekerjaan bisa dicari lagi, atau mungkin aku akan memulai bisnis kecil-kecilan sendiri nanti setibanya di tanah air, yang terpenting adalah aku ingin pulang.

* * *

Touchdown Soekarno - Hatta Airport! - via path.

Akhirnya perjalanan panjang ini berakhir. Tanah ini, udara ini, orang-orang ini; semua inilah yang selama ini aku rindukan. Entah kenapa selalu ada rasa bahagia yang meledak-ledak bagai kembang api tahun baru setiap aku kembali menginjakkan kaki di tanah ini. Segera kucari taksi dan menuju daerah sunter, aku memang tak langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan dengan temanku. Beberapa tahun yang lalu aku dan temanku Bandi mendirikan sebuah perusahaan kecil-kecilan di bidang ekspedisi barang dan kargo, walaupun belum terlalu besar tapi hasilnya sudah lumayan untuk ukuran perusahaan baru.

* * *

Handphoneku berdering, lampu led berwarna biru itu nampak berkedip-kedip menandakan sebuah notifikasi BBM masuk. Anita.

"wah.. ada yang pulang nggak kasih kabar nih"

Aku balas pesan Anita dengan emot senyuman, sekejap kemudian dia langsung membalas lagi.

"Mas Dhika masih di Jakarta kan, ketemuan yuk, aku tunjukin tempat yang asik deh nanti"

Kepalaku berpikir keras saat itu, tak biasanya aku agak sedikit grogi dalam menghadapi seorang wanita. Matanya yang tajam, senyumnya yang menawan, dan tawanya yang renyah kembali terbayang di kepalaku. Ada perasaan yang berkecamuk di hatiku. Ada perasaan bersalah setiap aku mulai membuka hati untuk wanita lain. Jujur, sebagian hatiku masih ada bersama Shinta. Mungkin aku sedikit egois, tapi memang sudah saatnya aku melupakan Shinta dan semua tentangnya. Sudah sepantasnya aku membiarkan dia hidup bahagia bersama keluarganya. Bukannya aku tak lagi cinta, tapi ini semua demi dia, ini semua demi Tian pula.

Kubalas pesan dari Anita, "oke deh, tapi nggak bisa lama-lama ya"


Penulis: Roviandifa Prasetyo / @diponk__
»»  READMORE...

Senin, 24 Februari 2014

Bengawan Sore #7

"engkau seperti kekasihku yang dulu”
“sungguh hadirmu menyejukkan risau jiwaku”
“begitu lekatnya perasaanku ini padamu”
“hingga anganku kusandarkan padamu”


Hujan rintik-rintik menyambut kedatanganku di kota Paris. Lumayanlah liburan weekend dua hari ini aku habiskan di kota ini, bosan rasanya tiap akhir pekan aku hanya berdiam diri di apartemenku di Amsterdam. Sekitar pukul 14.00 aku sampai di stasiun Gare du Nord atau stasiun utara kota Paris. Rasanya tak sabar ingin segera menghirup udara kota Paris, tapi rasanya aneh juga soalnya ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke kota ini, teman-temanku yang biasa pergi bersamaku seakan sibuk dengan rutinitasnya sendiri.

“excuse me, are you Indonesian?”

Tiba-tiba ada seorang gadis menyapaku, agak terkejut aku akan hal itu, maklum saja aku tak pernah punya kenalan di Paris. Dari sekilas yang kulihat dari gadis itu sepertinya dia juga orang Indonesia, rambutnya hitam agak ikal sepanjang bahu, tingginya sebahuku, matanya hitam dan dia memakai baju hangat tebal berbulu warna coklat, sepertinya dia turis yang sedang berlibur di sini.

“iya saya orang Indonesia, kok anda tahu, siapa anda ini?"

“perkenalkan namaku Anita, maaf mengganggu anda, saya tersesat disini. Kebetulan tadi saya mendengar lagu Padi yang anda mainkan di iPod anda”
, jawabnya.

“hoo.. gitu ya, aku Dika. Aku juga sedang liburan disini, aku dari Amsterdam”

Obrolan kami berlanjut, ternyata Anita orangnya supel juga, jarang sekali aku bisa ngobrol nyambung dengan seorang cewek selain dengan Shinta dan serang temanku lagi yang berasal dari Italia. Anita rupanya sedang liburan sendirian di Paris, dia baru sampai dari Jakarta kemarin malam, cukup berani juga dia untuk ukuran seorang cewek hingga berani pergi ke negeri orang sendirian.

Cuaca Paris hari itu hujan sepanjang hari. Sebenarnya hujan sungguh tidak lazim mewarnai peralihan musim semi ke musim panas. Tapi tahun ini cuaca memang kacau. Bukan hanya hujan, bahkan suhu belasan derajat masih menyambangi kota Paris dan Munich. Padahal 3 tahun lalu awal atau pertengahan Juni itu cuaca sudah mulai panas, kecuali di kota-kota yang dekat dengan pegunungan Alpen seperti Vaduz ibukota Liechtenstein. Cukup lama aku dan Anita ngobrol di sebuah coffeeshop di dekat Promenade Plantee yaitu sebuah taman bunga yang menjulang seperti jalan layang di atas kota Paris. Pemandangannya sungguh indah, tak heran jika tiap hari banyak pasangan yang memadu kasih di taman yang memanjang sepanjang 4,5 Km ke arah Bastille itu.

“ngomong-ngomong kamu mau kemana setelah ini”, tanyaku pada Anita.

“hmmm.. aku tak tahu, aku tak ada rencana selama di Paris ini”

“bagaimana kalau kamu ikut aku ke Bercy Village, tempatnya asik buat nongkrong, ada taman bunganya juga yang tak kalah bagus dengan taman ini. Di sana suasananya masih seperti Paris tempo dulu gitu, trus ada banyak kafe-kafe unik yang asik buat kongkow malam hari”

“wah.. boleh juga tuh, kamu tuh udah kayak tour guide saja Dik. Nggak rugi aku ketemu kamu disini. Hahaha”

“ah, tak apalah.. anggap saja ini sekedar ramah-tamah sesama orang Indonesia yang sedang berada di negeri orang. Lagipula tak elok rasanya membiarkan gadis secantik kamu berjalan-jalan sendiri di kota sebesar ini".

“ah kamu bisa aja, eh ngomong-ngomong kamu menginap dimana malam ini? Bagaimana kalau kamu ikut saja menginap di hotelku, itung-itung menghemat biaya kan”
, ajak Anita dengan sedikit memaksa.

Sengaja tak kujawab tawaran Anita tadi, tapi aku yakin dia pasti sudah tahu jawabanku dari senyum di wajahku. Hari sudah sore tapi hujan gerimis masih saja mengguyur kota Paris waktu itu. Sejenak aku bisa melupakan Shinta dan semua masalah yang ada di kepalaku. Bukannya aku tak mencintainya lagi, tapi mungkin saja dengan melupakannya ini akan menjadi jalan yang terbaik bagi kami berdua.
»»  READMORE...

Sabtu, 15 Februari 2014

Tanpa Judul

Solo, awal tahun 2000.

“kamu masih inget sama Parjo ndak? Itu lho.. lanangan yang tak tinju hidungnya gara-gara godain kamu di depan kantin, mosok kemaren dia nembak aku”

“lha mbak Lastri gimana, mbak suka ndak sama Parjo?”

“ngawur kamu Sri, ndak mungkinlah aku naksir lanangan koyo Parjo, amit-amit”


Suasana jalanan sore itu terlihat lengang, nampak beberapa siswi SMA baru saja pulang dari bubaran sekolahan di daerah manahan. Aku dan Sri mengayuh sepeda kami beriringan menyusuri jalanan yang menghubungkan kota Solo dengan Colomadu. Sri tinggal di komplek AURI Colomadu, maklum bapaknya adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara. Sedangkan aku tinggal di perkampungan tak jauh dari komplek itu.

* * *

Paris, Oktober 2014.

Stasiun Gare de I’est Paris mulai ramai, arlojiku menunjukkan pukul 06.30 pagi. Cuaca pagi itu agak mendung. Sengaja aku mengambil tiket TGV yang paling pagi, aku tak mau sampai di Munich terlalu malam. TGV ini sungguh kereta yang menakjupkan, jarak Paris-Munich yang setara dengan jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya dalam waktu lima jam. Setibanya di Munich aku langsung menuju penginapan yang sudah aku pesan seminggu sebelumnya. Aku memang sudah merencanakan liburanku ini jauh-jauh hari, kepalaku seakan sudah terasa sesak oleh hitung-hitungan rumus fisika dalam pekerjaanku sebagai dosen di Universitas Paris. Aku butuh liburan.

Hari sudah menjelang malam, aku malas untuk berjalan-jalan malam itu, perjalanan dari Paris ke Munich nampaknya cukup menguras tenagaku. Selepas makan malam dan menghabiskan secangkir ginger tea di sebuah cafe di dekat penginapanku, aku putuskan untuk kembali  ke penginapan, cukup untuk hari ini. Malam itu kuhabiskan untuk membaca saja di dalam kamarku, beberapa catatan lama yang masih kusimpan rapi kubaca kembali. Memang sudah menjadi kebiasaanku sejak masih SMP aku menuliskan semua hal-hal penting yang aku lakukan dalam sebuah catatan harian. Dan malam itu aku kembali mengingat namamu; Sri.

* * *

Bel istirahat sekolah sudah berbunyi, nampak siswa-siswi SMA sedang menikmati soto di kantin sekolahan di daerah Manahan itu. Aku dan Sri berjalan berdua ke kantin, kami sangat akrab, maklum kami berdua adalah teman sebangku. Bahkan saking akrabnya banyak teman sekelas kami yang bilang kalo kami berpacaran.

Sri adalah gadis yang cantik, rambut lurusnya dibiarkannya tergerai indah memanjang, satu hal yang tak pernah luput menghiasi rambut hitamnya adalah bando. Sri sangat suka memakai bando. Pembawaannya yang santun dan tutur katanya yang lemah lembut semakin menambah kecantikannya yang bak putri solo. Sri memang cantik, jauh berbeda dengan aku yang berpenampilan tomboy layaknya anak laki-laki, tak heran jika banyak siswa pria yang naksir padanya. Jangankan pria, aku saja kadang terpukau oleh kecantikannya. Tapi entah kenapa Sri tak pernah mau pacaran, tiap kutanya pasti jawabannya adalah karena dia tidak boleh pacaran oleh orang tuanya.

“eh Sri, ngomong-ngomong nanti malem kamu ada acara ndak?”

“ora enek mbak, lha ngapain toh acara malam-malam kayak cewek ndak bener aja”

“kita ke pasar malam yuk, sesuk kan hari minggu”

“aku takut sama bapakku mbak, pasti ndak boleh”

“halah.. urusan sama bapakmu itu urusan kecil, kalo sama aku pasti diizinin”


Kantin sekolah sudah mulai sepi, siswa-siswi yang tadi makan disini sudah mulai beranjak pergi. Aku dan Sri masih duduk mengobrol di sudut kantin sambil menghabiskan es teh pesanan kami. Banyak hal yang kami bicarakan, memang teman bicaraku yang nyambung denganku ya cuma Sri, jadi aku sangat nyaman jika ngobrol dengannya. Jam istirahat hampir selesai, Sri mengajakku kembali ke kelas, kami pun berjalan beriringan ke kelas.

“suuiit... suuiittt...”. Tiba-tiba terdengar sebuah suara siulan yang mengganggu kami. Aku dan Sri menoleh, kulihat Parjo dan gerombolannya menghampiri kami. Parjo dan gerombolannya terkenal sebagai geng yang paling ditakuti di sekolah ini, tapi itu tak pernah membuatku takut menghadapi Parjo. Parjo mencoba menggoda Sri, dia mengajak Sri ke pasar malam nanti malam. Tentu saja Sri menolak ajakan Parjo, siapa juga yang mau jalan bareng cowok dekil dan urakan macam sapu ijuk itu.

“ayolah Sri.. mbok kamu mau jalan sama aku, nanti tak jajakne wedhang ronde karo arum manis”, Parjo semakin menjadi-jadi, ditariknya lengan Sri. Sri pun meronta melepaskan lengannya dari genggaman Parjo.

“ojo kurang ajar kowe jo!”, kutarik lengan Parjo yang menggangu Sri, sedetik kemudian kulayangkan kepalan tanganku tepat ke hidungnya. Parjo langsung nggeletak, hidungnya berdarah. Langsung aku meraih lengan Sri dan mengajaknya lari. Teman-teman Parjo langsung mengejarku dan Sri, tapi tak sampai mereka berhasil menangkap kami di depan kami muncul Pak Sutikno guru olahraga. Mereka pun langsung putar haluan mengurungkan niatnya mengejar kami.

* * *

Kembali aku tersenyum mengingat kejadian itu, banyak kenangan yang kualami selama tiga tahun bersama dengan Sri. Tapi sayang, selepas lulus SMA Sri berpindah ke Medan. Bapaknya dipindah tugaskan ke sana. Hingga akhirnya aku meneruskan kuliah ke Jerman beberapa tahun lalu, aku pun hilang kontak dengannya. Entah apa yang sedang kamu lakukan saat ini Sri, mungkin saat ini kau sedang mengingat kejadian ini. Atau mungkin malah saat ini kau sedang menceritakan kisah ini kepada anak-anakmu. Apapun yang terjadi padamu saat ini, semoga kau bahagia Sri.


»»  READMORE...

Sabtu, 08 Februari 2014

Bengawan Sore #5

Alun-alun Wonogiri malam itu cukup ramai, udara dingin ternyata tidak menyurutkan niat anak-anak muda yang ingin keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Dari sekian banyak anak-anak muda yang bergerombol di alun-alun itu hanya nampak satu orang saja yang duduk sendirian; aku. Aku memang hanya ingin menikmati malam ini sendiri. Tak terasa liburanku sudah hampir menemui hari terakhir, lusa aku harus kembali lagi ke Amsterdam.

“selamat malam dika”.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. Cukup terkejut aku oleh sapaan itu, aku pikir tak ada lagi yang mengenalku di kota ini semenjak kepergianku ke Belanda sepuluh tahun lalu. Aku menoleh ke samping kiriku, nampak seseorang yang sudah kukenal, orang yang selama ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.

“Anggara, tumben kowe neng wonogiri. Angin apa yang membawamu hingga kesini?”

Anggara tak menjawabku sama sekali, dia berjalan menghampiriku masih dengan raut muka yang sama. Raut muka yang nampak tak senang melihat aku kembali ke kehidupannya dan keluarganya. Cukup lama aku tak bertemu dengan Anggara, memang dulu kami pernah sekelas waktu SMP tapi kami juga tidak cukup akrab. Aku yang selengekan dan agak urakan tentu sangat berbeda dengan Anggara yang kalem dan terkesan seperti anak rumahan. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, aku tahu itu cuma basa-basi belaka, tak mungkin Anggara jauh-jauh datang ke kota ini hanya untuk mengobrolkan hal-hal sepele macam pekerjaan dan keadaan keluargaku.

“Jauhi Shinta dan Tian...”, kata Anggara padaku. Sesekali dihisapnya rokok di tangannya, nampaknya dia mulai mengungkapkan alasannya menemuiku hingga mencariku ke Wonogiri. Aku coba untuk tetap tenang, sebenarnya ada sebagian dari hatiku yang ingin menolak permintaannya itu. Aku sangat mencintai Shinta, aku juga tahu bahwa Shinta masih mencintaiku seperti dulu, apalagi sekarang aku juga tahu bahwa Tian itu adalah anakku. Tapi aku juga sadar, aku ini hanyalah duri di dalam daging yang mencoba mengoyak keluarga Anggara.

Aku masih terdiam, tak perlu banyak kata bagi seorang untuk mengungkapkan perasaannya. Nampaknya Anggara juga sudah tahu jawabanku, nampak dia tak cukup puas dengan sikapku. Dilemparkannya puntung rokoknya ke mobilku yang kuparkir di depan gerbang pendopo kabupaten tempat kami duduk malam itu.

“Aku heran denganmu Dik, kowe iki bagus, gagah, kowe duwe kabeh sing dipengeni cewek. Kamu pasti bisa dapetin semua cewek yang kau mau. Tapi kenapa kau masih kembali kesini untuk menggangguku dan Shinta?”

“Tak usah kau repot-repot menyuruhku pergi, lusa aku sudah kembali ke Belanda”, jawabku sambil berdiri dan bergegas menuju mobilku dan meninggalkan Anggara yang masih duduk di alun-alun. Tak ada gunanya aku berlama-lama dengan Anggara, aku tak mau lepas kontrol dan malah merusak malam itu dengan perkelahian.

* * *

“Mas Dika udah lama nunggunya?”

Shinta nampak cantik siang itu, dengan dress warna biru muda yang sangat serasi dengan tubuh semampainya, rambutnya nampak anggun layaknya ombak yang menggulung semua gelora. Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya yang sedalam samudera, menikmati setiap detik pertemuan yang seakan menjadi pertemuan terakhirku dengannya.

“Lho kok malah bengong? Woy.. bangun woy..”, Shinta mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajahku sambil tertawa. Suasana Mall Paragon siang itu nampak cukup lengang, maklum saja ini bukan weekend. Aku sengaja mengajak Shinta bertemu sekedar ingin berpamitan karena besok aku sudah akan kembali ke Belanda.

“Kok Tian ora melu?”, tanyaku pada Shinta sambil meminum cappucinno jelly pesananku tadi.

“Tian diajak eyangnya kondangan ke Karanganyar. Kan malah bagus gini, jadi kita bisa berduaan to mas”, Shinta mesam-mesem sambil mencubit lenganku.

“Halah... berduaan koyo arep ngopo wae Shin, awas nanti ada setan”, kataku.

“Mau ada setan kek, kuntilanak kek, pocong kek, tekek kek.. selama ada Mas Dika aku ndak takut”, jawab Shinta sambil tangannya beringsut menggandeng lenganku.

Siang itu aku dan Shinta sangat bahagia. Beberapa lagu kami nyanyikan bersama di salah satu ruangan karaoke milik seorang artis terkenal ibukota yang ada di Mall itu. Nampak binar matanya membiru seakan tak rela untuk kutinggalkan.

* * *

Kusibak gorden kamar hotel yang masih satu komplek dengan mall tempatku bertemu dengan Shinta tadi. Sinar matahari senja buru-buru menyelinap masuk ke seluruh penjuru ruangan. Hangat kurasakan sinar surya kala itu yang sedikit tertutupi mendung. Kupandangi tubuh Shinta yang masih memejamkan mata di ranjang bersprei warna putih yang nampak berantakan bekas pergumulan kami tadi. Kudekati Shinta yang masih tanpa busana dan hanya tertutup selimut. Sesekali kunkecup keningnya sambil membelai ikal rambutnya. Aku mencintainya, tak ada yang berbeda. Shinta membuka matanya perlahan, bahkan wajahnya nampak begitu cantik walaupun baru terjaga dari tidurnya. Kurebahkan tubuhku di sampingnya, Shinta kembali memelukku sambil berbisik pelan.

“Aku mencintaimu mas...”



Bersambung ke sini→Bengawan Sore #6
»»  READMORE...

Jumat, 31 Januari 2014

Arisan Nikah

Suasana dusun Tegalrejo pagi itu mendadak gempar, Katno seorang pemuda tanggung berusia 25 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir di Rumah Sakit Bersalin Harapan Ibu depan terminal itu dijemput paksa oleh aparat desa yang terdiri dari Mas Bambang selaku hansip desa, Pak Jono selaku Pak RT, dan Pak Bondan yang kali ini bertindak sebagai Pak RW.

"Bentar-bentar pak.. salahku opo? kok aku diperlakukan layaknya koruptor saja, batinku tersakiti pak", teriak Katno sambil gondelan di tiang depan rumahnya.

"udah kamu nurut saja, pokoknya kamu ikut kami ke kantor, eh ke rumah Pak Karman", jawab Mas Bambang sang hansip desa sambil mengayun-ayunkan pentungannya yang wujudnya mirip barangnya Bima.

Aku dan Gentho yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melongo. Dengan bekal titah perintah dari ibunya Katno akhirnya kami berdua turut serta menemani sobat kami Katno yang digelandang ke rumah Pak Karman.

"kira-kira Katno salah opo ya Mul?", tanya Gentho padaku saat dalam perjalanan ke rumah Pak Karman.

"wah.. aku yo ndak mudeng Tho, setahuku Katno itu kan naksir berat sama si Novi anaknya Pak Karman", jawabku.

"jangan-jangan Novi hamil Mul!!"

"Huuss... ngawur kowe Tho, Katno itu anaknya lihat pusernya suwargi mbah Mangun aja udah gemeteran, mana mungkin dia bisa ngehamilin Novi", jawabku sambil berkelakar.

* * *

Suasana rumah Pak Karman hari itu agak sedikit lebih ramai dari hari biasanya. Saat aku sampai disana di dalam rumah Pak Karman sudah ada Pak Karman yang sedang ngobrol dengan Pak Kiyat tetanggaku yang berprofesi sebagai polisi berpangkat Letnan 3. Selain Pak Kiyat aku juga melihat ada empat pemuda lagi yang belum aku kenal. Nampak empat pemuda itu cuma duduk sambil menundukkan kepala tanpa berbicara sedikitpun. Aku dan Gentho semakin bertanya-tanya. Katno, pak RT, dan pak RW langsung masuk ke dalam ruang tamu sedangkan Mas Bambang tetap di luar sambil menahan aku dan Gentho agar tidak ikut masuk.

"ada apa ini Tho.. kowe kenal ndak sama orang-orang itu?", tanyaku pada Gentho sambil pasang telinga mendengarkan percakapan di dalam rumah.

"aku yo ndak mudeng Mul, tapi kayaknya aku kenal sama satu orang di dalam. Yang pake kaos Rolling Stones warna putih itu Si Erik pacarnya Novi", jawab Gentho sambil mengintip di sela-sela kaca jendela.

"Adek-adek sekalian, kalian semua dikumpulkan disini karena satu hal. Saya disini mewakili Pak Karman sebagai bapaknya dek Novi mau memberikan sebuah berita yaitu saat ini Novi telah Hamil. menurut kami kalian berlima ini ada andil dalam hamilnya Novi ini", Pak RT menjelaskan permasalahan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Katno langsung melongo mendengar kata-kata Pak RT, aku dan Gentho pun saling pandang dan tentu saja cuma bisa melongo seperti model meme "aku rapopo".

Pak RT menjelaskan duduk permasalahannya, beliau berharap ada yang mau mengakui atas kehamilan Novi. Kalo sampai tidak ada yang mau mengakuinya maka dengan terpaksa akan diadakan prosesi pengundian nama dan yang namanya keluar mau tak mau harus menikahi Novi, kalo dia menolak maka akan berurusan dengan Pak Kiyat selaku aparat penegak hukum.

"Buajinduul...!", tiba-tiba Katno misuh-misuh sambil berdiri.
"lha trus hubungan saya dengan masalah iki opo pak? lha wong saya ini lihat udelnya Novi aja belum pernah kok bisa-bisanya dituduh menghamili", Katno mencak-mencak sampai bibir dowernya menghujani tikar di bawahnya dengan hujan asam.

"Heh Katno, kamu bisa diem ndak? kamu mau bibir dowermu itu tak bedil biar tambah ancur!", Pak Kiyat menghardik Katno sampai Katno mlungkret lagi.

Katno duduk lagi, tiba-tiba dari dalam rumah Novi keluar sambil ditemani oleh ibunya. Wajah Novi terlihat pucat dan lesu, matanya sembab, nampaknya dia habis menguras air matanya sampai tetes terakhir.

"Mas Katno ndak salah pak, dia ndak ada hubungannya dengan masalah ini, malah selama ini Mas Katno udah baik banget sama Novi. maafin Novi ya mas..", Novi membela Katno sambil tersedu, wajahnya tetap menunduk tak kuasa menatap Katno.

"lha piye to nduk, bapak kira kamu selama ini pacaran sama Katno", Pak Karman nampak bingung.

Katno langsung nggeloyor keluar rumah Pak Karman, sambil misuh-misuh dia mengajak aku dan Gentho pergi dari rumah Novi. Sepanjang perjalanan dari rumah Novi mulut Katno tak henti-hentinya misuh-misuh. Aku dan Gentho juga tak mau kalah, kami bertiga malah seperti sedang main ABC 5 dasar dan diminta untuk menyebutkan nama-nama hewan.

Besoknya aku mendengar kabar dari Mas Bambang hansip bahwa yang namanya keluar dalam "arisan nikah" kemarin adalah Erik pacarnya Novi. Belakangan aku baru tahu bahwa kehamilan Novi itu disebabkan oleh Erik dan ketiga temannya. Waktu itu Erik sedang minum oplosan dengan ketiga temannya, setelah mabuk Erik lalu menggauli Novi di rumahnya dan parahnya setelah itu dia malah mengajak ketiga temannya untuk joinan. Namanya juga orang mabok, kelakuannya pasti ada-ada saja, Novi pun tak kuasa menolak dan hanya bisa pasrah.

* * *

Sebulan kemudian akhirnya Novi dan Erik menikah, dia pun sudah pindah ke rumah Erik di kampung sebelah. Kehidupan di desaku kembali normal seperti sedia kala. Tak ada yang berubah; aku, Gentho dan Katno masih tetap menjomblo. Tapi kini ada satu hal baru yang selalu membuatku dan Gentho tertawa, setiap kami bertiga mengadakan acara minum ciu bersama kami disuguhi satu acara baru, yaitu Katno yang latihan tinju melawan pohon pisang sambil misuh-misuhi Novi dan keluarganya.
»»  READMORE...

Bengawan Sore #3

Minggu pagi, matahari sudah sepenggalah tingginya. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat jam di layar HPku. "wis jam 9", gumamku.
Kalo saja hari ini aku tak ada janji ketemuan dengan teman-temanku di Solo, pasti aku lebih memilih untuk tidur lagi. Selesai mandi aku lalu berpamitan kepada ibuk.

"Buk.. aku mau ke Solo, ada janji ketemuan sama temen lamaku dulu".

"oalah dik.. dik, kowe iki kalo pulang malah ndak pernah ada di rumah. kapan kowe ngajak ibukmu ini dolan", jawab ibukku sambil meneruskan kegiatannya menjahit baju.

"iya.. iya.. ibukku sayang, nanti tak beliin oleh-oleh", sahutku sambil nggeloyor pergi. Kuambil kunci mobil yang tergantung di samping buffet TV lalu bergegas ke garasi.

"ati-ati di jalan le..", teriak ibuk dari dalam rumah.

* * *

Hari sudah sore, arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.00. Beberapa botol bir dan beberapa bungkus makanan nampak berserakan di ruang tamu rumah Zamil, temanku. Aku, Zamil, Adit, dan Dhani masih seperti dulu, tak ada yang berbeda. Mungkin cuma Zamil saja sekarang yang agak lebih dewasa, dia sudah berkeluarga.

"aku pulang dulu ya bro, wis sore kih..", kataku pada Zamil.

"halah.. baru habis 6 botol udah mau pulang wae kowe ki", sergah Zamil.

"aku janji ndak pulang malam-malam je sama ibuk"

"woalah dik dik.. kamu itu udah gede jembuten masih aja kayak bocah kemaren sore", timpal Adit sambil tertawa ngakak.

"asu! tampang boleh preman bro, tapi harus tetap hormat sama orang tua. hahaha..", kilahku sambil mucu-mucu.

Segera kupacu mobilku kembali ke Wonogiri. Jalanan kota Solo sore itu agak padat, dari rumah Zamil di daerah Manahan sampai di Gajahan saja memakan waktu 20 menitan. Sembari menunggu pesanan martabakku selesai iseng-iseng kutelpon Shinta.

"halo Shin, lagi ngopo kowe?", tanyaku memulai obrolan.

"eh Mas Dika, tumben telpon. biasa mas, ini lagi di rumah nemenin anak main", jawab Shinta.

"hooo.. emange Gara belum pulang?"

"Mas Gara pulange malam, biasane nyampe rumah udah jam 9-nan. emang Mas Dika lagi dimana sekarang?"

"ini lagi beli martabak buat ibuk di Gajahan, bentar lagi juga mau pulang"

"nah.. mumpung Mas Dika dari Solo mbok sekalian mampir ke rumahku, kan udah lama mas nggak main kesini".

"oke deh ntar tak mampir bentar", jawabku nglegani Shinta.

"oiya mas, mbok sekalian aku dibeliin creepes di gajahan, yang rasa duren ya. hehehe"

"woo.. maunya, kamu ini dari dulu ndak berubah-berubah ya, masih manja aja kalo sama aku"

Shinta cengengesan di ujung telepon, dalam hati aku sedikit merasa senang, Shinta yang kukenal dulu seakan belum hilang. Kembali memori-memori lama berputar di benakku, memainkan warna-warna lucu yang kadang membuatku tertawa sendiri.

* * *

Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat ketika aku sampai di rumah Shinta di daerah Jombor Sukoharjo. Rumah yang nampak tak berbeda bagiku, dua pilar besar di depan sebagai penyangga, serta halaman depan yang dilindungi oleh tiga pohon cemara sebagai pengayomnya. Mungkin yang sedikit berbeda cuma warna pagar rumahnya saja, seingatku dulu pagar ini berwarna hijau tua, sekarang sudah dicat menjadi warna biru tua. Aku sedikit tersenyum saat sampai di depan pagar itu, teringat lagi masa-masa dulu, di depan pagar inilah aku selalu mencium kening Shinta setiap mengantar dia pulang. Waktu cepat berlalu.

"Masuk sini mas", tiba-tiba suara Shinta membuyarkan lamunanku, dengan senyum khasnya yang sama sekali tak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Shinta sore itu nampak cantik dengan baju Bali warna putih dengan gambar papan selancar warna biru.

"Nih creepes pesenanmu, ndang dipangan keburu adem ndak enak", kataku sambil memberikan bungkusan kotak berisi creepes rasa durian kesukaannya.

"makasih mas, bayar ora iki?", tanyanya cengengesan.

"bayar dong, masa iya aku ngutang di penjual creepes", jawabku sedikit bercanda. Shinta tertawa mendengar leluconku, dia lalu memanggil anaknya. Namanya Tian.

Aku dan Shinta ngobrol banyak hal sore itu sambil melihat Tian bermain di halaman depan rumah. Hal-hal kecil di masa lalu yang selalu membuat kami berdua tertawa jika mengingatnya. Kenangan, hanya itu yang tersisa di antara kita.

"Shin, ngomong-ngomong nama lengkap Tian kuwi sopo?"

Shinta terdiam sejenak, hatinya seakan ragu untuk menjawab pertanyaanku.
"Christian.... Mahardika", jawabnya singkat. Shinta agak terbata menjawabnya.

"hmmm.. kok nganggo Dika segala kayak jenengku. hahaha.."

"harapanku sih supaya dia nanti mirip sama ayahnya... kamu mas".

Kata-kata Shinta membuatku terdiam, benakku langsung kembali mengingat kejadian di Lor Inn 6 tahun lalu. Kejadian yang ingin sekali aku lupakan, rasa berdosaku seakan tak pernah padam hingga saat ini. Kuakui aku khilaf waktu itu, memang aku dan Shinta saling mencintai, tapi dia sudah menjadi permaisuri orang lain. Kepalaku tertunduk, sejenak kemudian kupandang Tian yang sedang bermain di halaman depan rumah.

"Kamu ini ngawur wae Shin.. ojo ngomong sing ora-ora"

"aku ndak ngawur mas, asal mas tahu aku dan mas Anggara itu nggak pernah pake kontrasepsi atau KB, dua tahun aku menikah tapi aku baru hamil setelah kejadian itu. Sejak kelahiran Tian 5 tahun lalu aku juga ndak kunjung hamil lagi, aku pikir mas Anggara itu mandul".
Shinta menatapku dalam-dalam, mata itu seakan menelanjangiku yang masih seakan tak percaya dengan kenyataan ini.

"Aku ndak nyesel mas, aku juga ndak bakal nuntut apa-apa sama Mas Dika. Aku justru bahagia, paling tidak ada bagian dari Mas Dika yang masih bisa kumiliki, kupeluk dan kusayangi hingga detik ini"

Kupandangi Tian sepanjang sore itu, rambut lurusnya memang lebih mirip denganku daripada dengan Shinta ataupun Anggara yang berambut agak ikal. Matanya yang sendu seperti orang yang mengantuk itu juga sama seperti milikku. Kuperhatikan Tian yang sedang bermain bola, dia selalu menendang bola menggunakan kaki kirinya, sama persis seperti caraku.

"Dia memang anakku".

bersambung kesini→Bengawan Sore #4
»»  READMORE...

Senin, 27 Januari 2014

Bengawan Sore

Langit kota Solo siang itu terlihat cerah, terlihat sekumpulan awan putih berarakan membentuk pola perdu ilalang semu. Angin bertiup lembut dengan syahdu, melagukan syair rindu dari hati yang tak kunjung bertemu.

"kamu ada acara nggak Shin?", tanyaku kepada Shinta di ujung saluran telepon.
"nggak ada mas, emang arep ngopo?", jawab Shinta agak malas.
"jalan-jalan yuk, suntuk nih..."
"kemana?", tanya Shinta agak bersemangat.
"sak karepmu lah, bentar lagi tak jemput ya.."
"oke.. tapi aku males mandi. hehehe..", sahut Shinta.
"halah.. nggak usah mandi kowe udah cantiknya naudzubillah nduk.."
"haiyaah.. gombalanmu ora mempan mas buatku, cih!", jawab Shinta sambil terbahak.

Setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah Shinta di Sukoharjo. Jarak Wonogiri - Sukoharjo memang tak terlalu jauh, motor bebekku bisa sedikit menyombongkan diri bisa melahapnya dalam waktu 15 menit.

"ayo berangkat mas..", teriak Shinta sambil keluar dari rumah.
"lhoh.. nggak pamitan dulu sama Ibuk?", tanyaku.
"Bapak Ibuk ada acara di gereja, pulangnya paling malam nanti. aku wis pamitan mau", jawab Shinta sambil naik ke jok motorku.

Motorku segera melaju ke arah kota Solo. Entahlah mau kemana tujuan kami berdua, sudah menjadi kebiasaan kami kalo lagi suntuk muter-muter ngabisin bensin subsidi dari pemerintah buat keliling kota. Cuaca kota Solo hari itu cukup panas, kami berdua lalu mampir makan es campur di depan lapangan kota barat. Sebuah rumah makan yang cukup nyaman untuk nongkrong berdua, namanya Es Kobar, di sana ada live musiknya pula.

"Habis dari sini kita kemana nih?", tanyaku memulai obrolan dengan Shinta.
"bentar to mas, esnya masih enak nih. jangan buru-buru pergi.."

"yo aku kan takut nanti pulangnya kemaleman kayak kemaren dulu itu, trus kowe diskorsing nggak boleh main sama bapakmu yang kumisnya kayak Pak Raden itu sampai seminggu", sahutku sambil cengengesan.

"woo.. berani ya mas Dika ngatain bapakku kayak Pak Raden, awas nanti tak bilangin kapok kowe", kelakar Shinta sambil bibirnya monyong karena masih mengunyah es campur.

"hahaha.. kandhakno ora wedhi. udah tak mbayar dulu, tuh esnya buruan dihabisin", sahutku sambil ngacir ke meja kasir.

Selesai menikmati es campur di kota barat akupun kembali mengajak Shinta muter-muter kota Solo. Manahan, Pura Mangkunegaran, Sriwedari, Jalanan Slamet Riyadi sampai Alun-alun Gladak kami lalui sambil bercanda. Hari sudah menjelang sore, akupun mengajak Shinta pulang.

"eh mas, nanti berhenti dulu di jembatan bacem ya. tak kasih lihat sesuatu deh, pokoknya mas Dika pasti suka"

"apaan sih, jangan bilang mau nunjukin nenek-nenek lagi mandi di pinggir kali ya. tak cemplungin kowe nanti"

"ada deh.. pokoknya uaapik biyanget. hehehe..", jawab Shinta sambil cengengesan.

Hari sudah beranjak senja saat aku dan Shinta sampai di jembatan Bacem. Jembatan ini adalah sebuah jembatan yang menghubungan kota Solo dengan Sukoharjo, tepatnya di daerah Grogol. Segera kuparkirkan motorku, aku dan Shinta berjalan menyisir trotoar jembatan itu.

"lihat mas, langit senja di sini bagus kan, aku suka banget melihat senja di sini. pantulan warna lembayungnya di permukaan bengawan yang mengalir tenang itu seakan nggak ternilai harganya buatku"
"iya..", jawabku singkat sambil melihat wajah Shinta.

Tiba-tiba Shinta menggenggam tangan kiriku yang sedang berpegangan di jembatan, kubiarkan saja hal itu, tak bisa kupungkiri akupun menikmati saat-saat ini. Tak terasa aku dan Shinta sudah berteman lebih dari setahun sejak pertemuan pertama itu di Bus Jurusan Wonogiri-Solo di suatu pagi. Mungkin sebenarnya hatiku ini tak rela jika kami hanya berteman saja, tapi apa daya jurang pemisah di antara kami terlalu dalam untuk kuseberangi. Kutatap wajahnya yang bersinar keemasan diterpa sinar matahari senja, rambutnya yang agak ikal lembut berayun tertiup angin selatan. Shinta memang cantik, tapi gerangan apa yang membuatnya masih belum memiliki kekasih hingga saat ini aku juga tak tahu. Tiap kutanya pasti dia hanya menjawab belum ingin pacaran dulu, aku anggap itu jujur mengingat bahwa dia juga masih kelas 2 SMA di SMA Kristen 1 Solo.

"udah hampir gelap nih, mau sampai kapan nih nangkring di jembatan gini?", tanyaku memecah lamunan Shinta.

Tiba-tiba Shinta mencium pipi kiriku,
"aku sayang kamu mas Dika..."
"heh... kowe iki ngomong opo Shin? pake cium-cium pipi segala, nggak lucu ah.."
"aku sayang kowe mas, tenan...", jawab Shinta singkat.

"aku juga sayang kamu kok... tapi kamu tahu kan, kita ini berbeda. nggak mungkin Bapak dan Ibukmu setuju kalo kita berhubungan lebih dari berteman", jawabku sambil membelai wajah Shinta yang sedikit tertunduk.

"lalu sampai kapan aku nunggu mas? aku cuma sayang sama mas Dika, nggak ada yang lain. lantas apa artinya kebersamaan kita selama ini? apa artinya pelukan mas Dika saat aku terjatuh dan tersakiti? apa artinya ciuman di keningku setiap mas Dika mengantarku pulang sampai di depan gerbang rumah? apa artinya aku mencintai mas Dika jika mas Dika ternyata nggak mau membalasnya? jawab mas, jawab...". Suara Shinta mulai terisak tangis.

Wajah Shinta semakin tertunduk, air matanya mulai menganak sungai. Lembayung senja tercermin di pipinya yang basah oleh air mata. Ku akui, aku mencintainya. Aku mencintainya melebihi egoku sebagai manusia. Aku mencintainya hingga aku tak sanggup untuk berkata "iya" saat dia menanyakannya.

* * *

Sepuluh tahun berlalu, kota ini nampak tak berbeda bagiku. Mungkin hanya sedikit yang berubah, di beberapa sudut kota ini sekarang mulai di bangun mall-mall layaknya kota metropolitan. Hartono Mall, nama yang agak lucu bagiku. Mobilku mulai melaju ke arah Solo Baru, lamunanku tiba-tiba melayang kepada Shinta. Mungkin saat ini dia sudah bahagia. Mungkin saat ini dia sudah berhasil menjadi penyiar radio seperti cita-citanya dulu, atau mungkin saja saat ini dia malah sudah berkeluarga dan sedang di beranda rumahnya sambil mengajak anaknya main lempar batu bersama Miki anjing kesayangannya. Mungkin saja...

Jembatan itu nampak di ujung jalan sana. Tak ada yang berbeda, jembatan yang sama, senja yang sama pula. Kunyalakan audio di dashboard mobilku, terdengar lagu kesukaanku menemaniku melintasi jembatan yang seakan seperti mesin waktu bagiku. Bengawan Sore.

Ning pinggiring bengawan
Wayah sore tan soyo kelingan
Gawang-gawang esemmu cah ayu
Gawe sedihing atiku


bersambung ke sini →Bengawan Sore #2

»»  READMORE...

Sabtu, 25 Januari 2014

BULLY-ABLE PERSON, NGGAK ADA LO NGGAK RAME

Siapa di antara kalian yang punya genk? atau mungkin teman-teman nongkrong gitu? sudah pasti semua orang punya teman sepenongkrongan (halah). Sudah menjadi kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial. Kita nggak bisa hidup sendirian, itulah sebabnya kita butuh orang lain yang bernama teman.

Dalam sebuah geng, sudah tentu ada yang dituakan (biasanya yang rambutnya udah ubanan terus dipanggil simbah), dan juga pasti ada seseorang yang kebagian peran sebagai bahan bulan-bulanan atau bully-able person.
Ada banyak sekali nama-nama panggilan untuk si bully-able person ini. Berikut ini gue kasih beberapa nama yang menurut gue paling laris di pasar global, cekidot!

1. SI BLACK
Nama ini adalah nama yang paling ngetrend di dunia nongkrong-menongkrong. Yang dipanggil kayak gini biasanya orangnya berkulit hitam (yaiyalah), jelek, dan biasanya sih masih jomblo. Bukan bermaksud rasis sih, tapi emang kayak gitu kenyataannya. hehehe...

2. SI GENDUT
Nama ini adalah nama yang masuk jajaran 7 nama paling ngetrend di dunia nongkrong-menongkrong versi on the spot. Gue yakin di geng lo atau di komunitas lo pasti ada yang dipanggil dengan nama ini, hambok sumpah!

3. SIMBAH
Nama ini biasanya dianugerahkan kepada orang yang paling tua di geng, maksud gue tua disini adalah tua secara fisik ya, biasanya rambutnya udah ubanan, muka boros, jomblo abadi, dan banyak lagi tanda-tanda penuaan dini dalam dirinya. #respect

4. SI JABLAY
Entah apa maksud dari nama sebutan ini, tapi yang pasti nama ini mulai merangsek naik ke jajaran top five di deretan nama-nama beken di dunia gaul. Sapaan "apa kabar blay?" atau "masih hidup lo blay" pun mulai menggema di seluruh pelosok negeri. Padahal kalo ditilik artinya secara harfiah, kata jablay ini identik dengan PSK (Pedagang Sate Kiloan). Sampai saat ini belum ada pakem standar yang bisa menjelaskan pemberian nama ini untuk seorang teman.

Jangan sedih dulu kalo kebetulan lo kebagian peran menjadi bully-able person di geng lo. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang paling ngangenin di sebuah geng itu justru si bully-able person ini, nggak ada dia nggak rame. Biasanya kalo lagi nongkrong terus si "ngenes" person ini nggak ada pasti banyak yang nyariin. "si black kemana?" atau "kok si gendut nggak kelihatan?" atau "si gembul kok ra ketok, ojo-ojo dinggo ganjel ban trek bapakke?". Jangan sedih, pada dasarnya mereka semua sayang sama lo sob :)

»»  READMORE...

Sabtu, 11 Januari 2014

Kebo Nyusu Gudel

Suasana pagi itu seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan belajar mengajar diawali dengan doa. Doa khusyuk dipanjatkan oleh sekian murid yang masih polos, berharap mendapatkan ilmu yang banyak (jane yo mung clingak-clinguk). Hormat kepada Sang Merah Putih menjadi kewajiban. Meskipun petinggi-petinggi kita malah ngidak-idak dengan attitudenya.

Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi pembuka pelajaran hari ini. PR pun dikeluarkan para murid yang masih ingusan itu. Kemudian kami pun membahas soal satu persatu, dalam salah satu soal tercetak pertanyaan sebagai berikut;

"Apa yang harus dilakukan agar tanah tidak longsor?"

Seharusnya jawaban dari pertanyaan itu adalah terasering, tapi pagi itu saya dibuat heran dengan jawaban dari salah satu anak. Dia menjawab dengan kepolosannya, "Kalo dipondasi boleh tidak pak?"

"HAHAHAHA...."

Saya pun tertawa, kemudian saya bertanya lagi "Kenapa dipondasi?" Dia menjawab, "Karena bapak saya kuli bangunan pak".

Lucu, tapi terselip sebuah pesan bahwa seorang anak yang masih polos bisa menjawab dengan jawaban yang sebetulnya salah, tetapi dalam ketidaktahuannya dia bisa menjawab pertanyaan itu, dan jika dilogika jawabannya bisa juga seperti itu.

Hal ini justru memberikan saya sebuah pelajaran bahwa suatu masalah bisa diselesaikan dengan pengalaman dari sekitar kita, dan ketidaktahuan pun juga bisa terselesaikan. Seperti kata pepatah Jawa "Kebo nyusu gudel", yg artinya "Orang tua berguru kepada orang yang lebih muda". Tak perlu malu, ilmu itu bisa didapat dari mana saja.



*postingan ini saya buat berdasarkan cerita dari teman saya yaitu Neza Yuli Anggara yang saat ini menjadi guru wiyata bakti di sebuah sekolah dasar di Karanganyar*
»»  READMORE...

Rabu, 08 Januari 2014

TRAGEDI KIMIA

Siang itu sangat cerah, beberapa anak STM dengan baju seragam pramuka lengkap ala Laskar Pelangi terlihat bermain sepakbola di lapangan basket.
Tiba-tiba dari depan pintu kelas ruang 15 seorang anak yang saya lupa siapa namanya berteriak; "woy.. gurune teko!". Mendengar teriakan itu anak-anak yang bermain bola tadi lantas langsung berlari sipat kuping, nunjang palang, menerjang semua halangan untuk kembali ke kelas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

*di dalam kelas*

Guru kimia (alm. sopo jenenge lali aku) sudah ada di dalam kelas, beberapa anak yang tadi bermain bola juga sudah duduk di bangkunya masing-masing dengan khidmat dan bersahaja. Siang itu sangat panas, semakin bertambah panas karena kami habis bermain sepakbola. Kami mendengarkan pelajaran sambil kipas-kipas memakai buku tulis.

Tiba saatnya pak guru memberi pertanyaan bergilir kepada semua murid. Saat giliran pertanyaan tiba kepada seorang anak yg sedang kipas-kipas entah kenapa soal yang diberikan begitu sulit, seingatku dulu soalnya tentang rumus untuk menciptakan perdamaian dunia lewat perkawinan silang manusia dan dugong. Anak itu tentu sangat kebingungan, tapi dia tetap santai sambil kipas-kipas cari angin, pacar lepas cari yg lain (malah pantun *dikeplak*). Sebut saja anak itu Neza Yuli Anggara (bukan nama sebenarnya_red).

Melihat anak kampret itu (kalo ini baru nama sebenarnya) tidak bisa menjawab soal tersebut pak guru terlihat kesal, mungkin saja dia kesal karena dia juga sedang memikirkan harga BBM dan LPG yang semakin melambung tinggi, entahlah yang pasti pak guru itu sangat marah. Tiba-tiba dia berteriak "KALO TIDAK BISA JAWAB NGGAK USAH KIPAS-KIPAS", mendengar hal itu sontak membuat kami sekelas tertawa terbahak-bahak dan anak itu terlihat murung bagai anak kucing yang keceplung got.

(diponk)
»»  READMORE...

Minggu, 05 Januari 2014

S E L F I E

Dunia semakin berkembang, semua aspek kehidupan pun begitu cepat berubah. Tren-tren baru muncul di segala bidang. Dulu ada friendster sekarang ada facebook, dulu ada blog sekarang ada microbloging alias twitter. Bukan cuma sosial media saja yang berevolusi, dunia fotografi pun memunculkan banyak tren baru; salah satunya adalah selfie.

"apa itu selfie?"

Sebenarnya istilah ini bukanlah istilah baku dalam tatanan bahasa indonesia, istilah ini hanyalah istilah yang lazim digunakan di sosial media, tersebar secara getok tular antar teman, dan akhirnya diakui secara luas. Selfie itu adalah seni mengabadikan foto wajah sendiri. Seni? iya seni, karena fotografi itu adalah sebuah seni; walaupun banyak yang bilang selfie itu alay dan norak.

Berdasarkan pengamatan gue, selfie itu bisa dibagi menjadi beberapa jenis atau aliran. Dalam postingan kali ini gue ingin menjelaskan beberapa jenis selfie yang paling sering diterapkan dalam kehidupan sosial media di bumi pertiwi Indonesia ini. Cekidot!

1. Selfiescus Toiletsentris
Selfiescus Toiletsentris adalah seni mengabadikan foto diri sendiri saat berada di dalam toilet. Selfie jenis ini adalah selfie yang paling sering dilakukan oleh khalayak umum. Anak-anak alay biasa melakukan ini di toilet mall, diskotik, dan toilet pribadi mereka sendiri. Terlepas kegiatan apa yang sedang mereka lakukan di toilet itu tidak penting, entah itu mandi, boker, atau cuma manyunin bibir ala burung unta sedang stres di depan cermin itu terserah mereka.


2. Alaynista Upside
Alaynista Upside adalah jenis selfie dimana subjek mengambil gambar dirinya sendiri dari arah atas. Entah pake kamera HP, kamera CCTV atau pake helikopter pribadi itu terserah mereka. Di jagad sosial media pose ini seperti sudah menjadi ciri kaum alay yang paling khas. Kamera HP di atas kepala, mata melirik sedikit ke arah kamera, bibir manyun ala burung unta, dan *JEPREEET* sempurna!


3. Selfie Real Ava
Dari beberapa jenis selfie yang ada, mungkin ini yang paling menarik bagi kita. ((( KITA )))
Selfie real ava adalah selfie yang MENONJOLKAN bagian belahan dada, tentunya bukan cowok yang melakukan ini. Subjek yang melakukan selfie real ava ini biasanya tidak menampakkan wajahnya. Entah karena wajahnya jelek atau bagaimana, atau mungkin saja mukanya rata. Entahlah sampai saat ini hal ini masih rahasia dan masih diteliti oleh NASA.


Itu tadi beberapa jenis selfie yang berhasil gue teliti. Mungkin di luar sana masih banyak lagi jenis lainnya, kalo kalian pengen nambahin tambahin di comment ya. Terlepas dari norak atau tidak, yang namanya selfie itu adalah hak segala bangsa, dan itu juga merupakan salah satu cara seorang anak manusia untuk mengekspresikan dirinya.

Salam olahraga (,")9
»»  READMORE...