Jumat, 31 Januari 2014

Arisan Nikah

Suasana dusun Tegalrejo pagi itu mendadak gempar, Katno seorang pemuda tanggung berusia 25 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir di Rumah Sakit Bersalin Harapan Ibu depan terminal itu dijemput paksa oleh aparat desa yang terdiri dari Mas Bambang selaku hansip desa, Pak Jono selaku Pak RT, dan Pak Bondan yang kali ini bertindak sebagai Pak RW.

"Bentar-bentar pak.. salahku opo? kok aku diperlakukan layaknya koruptor saja, batinku tersakiti pak", teriak Katno sambil gondelan di tiang depan rumahnya.

"udah kamu nurut saja, pokoknya kamu ikut kami ke kantor, eh ke rumah Pak Karman", jawab Mas Bambang sang hansip desa sambil mengayun-ayunkan pentungannya yang wujudnya mirip barangnya Bima.

Aku dan Gentho yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melongo. Dengan bekal titah perintah dari ibunya Katno akhirnya kami berdua turut serta menemani sobat kami Katno yang digelandang ke rumah Pak Karman.

"kira-kira Katno salah opo ya Mul?", tanya Gentho padaku saat dalam perjalanan ke rumah Pak Karman.

"wah.. aku yo ndak mudeng Tho, setahuku Katno itu kan naksir berat sama si Novi anaknya Pak Karman", jawabku.

"jangan-jangan Novi hamil Mul!!"

"Huuss... ngawur kowe Tho, Katno itu anaknya lihat pusernya suwargi mbah Mangun aja udah gemeteran, mana mungkin dia bisa ngehamilin Novi", jawabku sambil berkelakar.

* * *

Suasana rumah Pak Karman hari itu agak sedikit lebih ramai dari hari biasanya. Saat aku sampai disana di dalam rumah Pak Karman sudah ada Pak Karman yang sedang ngobrol dengan Pak Kiyat tetanggaku yang berprofesi sebagai polisi berpangkat Letnan 3. Selain Pak Kiyat aku juga melihat ada empat pemuda lagi yang belum aku kenal. Nampak empat pemuda itu cuma duduk sambil menundukkan kepala tanpa berbicara sedikitpun. Aku dan Gentho semakin bertanya-tanya. Katno, pak RT, dan pak RW langsung masuk ke dalam ruang tamu sedangkan Mas Bambang tetap di luar sambil menahan aku dan Gentho agar tidak ikut masuk.

"ada apa ini Tho.. kowe kenal ndak sama orang-orang itu?", tanyaku pada Gentho sambil pasang telinga mendengarkan percakapan di dalam rumah.

"aku yo ndak mudeng Mul, tapi kayaknya aku kenal sama satu orang di dalam. Yang pake kaos Rolling Stones warna putih itu Si Erik pacarnya Novi", jawab Gentho sambil mengintip di sela-sela kaca jendela.

"Adek-adek sekalian, kalian semua dikumpulkan disini karena satu hal. Saya disini mewakili Pak Karman sebagai bapaknya dek Novi mau memberikan sebuah berita yaitu saat ini Novi telah Hamil. menurut kami kalian berlima ini ada andil dalam hamilnya Novi ini", Pak RT menjelaskan permasalahan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Katno langsung melongo mendengar kata-kata Pak RT, aku dan Gentho pun saling pandang dan tentu saja cuma bisa melongo seperti model meme "aku rapopo".

Pak RT menjelaskan duduk permasalahannya, beliau berharap ada yang mau mengakui atas kehamilan Novi. Kalo sampai tidak ada yang mau mengakuinya maka dengan terpaksa akan diadakan prosesi pengundian nama dan yang namanya keluar mau tak mau harus menikahi Novi, kalo dia menolak maka akan berurusan dengan Pak Kiyat selaku aparat penegak hukum.

"Buajinduul...!", tiba-tiba Katno misuh-misuh sambil berdiri.
"lha trus hubungan saya dengan masalah iki opo pak? lha wong saya ini lihat udelnya Novi aja belum pernah kok bisa-bisanya dituduh menghamili", Katno mencak-mencak sampai bibir dowernya menghujani tikar di bawahnya dengan hujan asam.

"Heh Katno, kamu bisa diem ndak? kamu mau bibir dowermu itu tak bedil biar tambah ancur!", Pak Kiyat menghardik Katno sampai Katno mlungkret lagi.

Katno duduk lagi, tiba-tiba dari dalam rumah Novi keluar sambil ditemani oleh ibunya. Wajah Novi terlihat pucat dan lesu, matanya sembab, nampaknya dia habis menguras air matanya sampai tetes terakhir.

"Mas Katno ndak salah pak, dia ndak ada hubungannya dengan masalah ini, malah selama ini Mas Katno udah baik banget sama Novi. maafin Novi ya mas..", Novi membela Katno sambil tersedu, wajahnya tetap menunduk tak kuasa menatap Katno.

"lha piye to nduk, bapak kira kamu selama ini pacaran sama Katno", Pak Karman nampak bingung.

Katno langsung nggeloyor keluar rumah Pak Karman, sambil misuh-misuh dia mengajak aku dan Gentho pergi dari rumah Novi. Sepanjang perjalanan dari rumah Novi mulut Katno tak henti-hentinya misuh-misuh. Aku dan Gentho juga tak mau kalah, kami bertiga malah seperti sedang main ABC 5 dasar dan diminta untuk menyebutkan nama-nama hewan.

Besoknya aku mendengar kabar dari Mas Bambang hansip bahwa yang namanya keluar dalam "arisan nikah" kemarin adalah Erik pacarnya Novi. Belakangan aku baru tahu bahwa kehamilan Novi itu disebabkan oleh Erik dan ketiga temannya. Waktu itu Erik sedang minum oplosan dengan ketiga temannya, setelah mabuk Erik lalu menggauli Novi di rumahnya dan parahnya setelah itu dia malah mengajak ketiga temannya untuk joinan. Namanya juga orang mabok, kelakuannya pasti ada-ada saja, Novi pun tak kuasa menolak dan hanya bisa pasrah.

* * *

Sebulan kemudian akhirnya Novi dan Erik menikah, dia pun sudah pindah ke rumah Erik di kampung sebelah. Kehidupan di desaku kembali normal seperti sedia kala. Tak ada yang berubah; aku, Gentho dan Katno masih tetap menjomblo. Tapi kini ada satu hal baru yang selalu membuatku dan Gentho tertawa, setiap kami bertiga mengadakan acara minum ciu bersama kami disuguhi satu acara baru, yaitu Katno yang latihan tinju melawan pohon pisang sambil misuh-misuhi Novi dan keluarganya.
»»  READMORE...

Bengawan Sore #3

Minggu pagi, matahari sudah sepenggalah tingginya. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat jam di layar HPku. "wis jam 9", gumamku.
Kalo saja hari ini aku tak ada janji ketemuan dengan teman-temanku di Solo, pasti aku lebih memilih untuk tidur lagi. Selesai mandi aku lalu berpamitan kepada ibuk.

"Buk.. aku mau ke Solo, ada janji ketemuan sama temen lamaku dulu".

"oalah dik.. dik, kowe iki kalo pulang malah ndak pernah ada di rumah. kapan kowe ngajak ibukmu ini dolan", jawab ibukku sambil meneruskan kegiatannya menjahit baju.

"iya.. iya.. ibukku sayang, nanti tak beliin oleh-oleh", sahutku sambil nggeloyor pergi. Kuambil kunci mobil yang tergantung di samping buffet TV lalu bergegas ke garasi.

"ati-ati di jalan le..", teriak ibuk dari dalam rumah.

* * *

Hari sudah sore, arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.00. Beberapa botol bir dan beberapa bungkus makanan nampak berserakan di ruang tamu rumah Zamil, temanku. Aku, Zamil, Adit, dan Dhani masih seperti dulu, tak ada yang berbeda. Mungkin cuma Zamil saja sekarang yang agak lebih dewasa, dia sudah berkeluarga.

"aku pulang dulu ya bro, wis sore kih..", kataku pada Zamil.

"halah.. baru habis 6 botol udah mau pulang wae kowe ki", sergah Zamil.

"aku janji ndak pulang malam-malam je sama ibuk"

"woalah dik dik.. kamu itu udah gede jembuten masih aja kayak bocah kemaren sore", timpal Adit sambil tertawa ngakak.

"asu! tampang boleh preman bro, tapi harus tetap hormat sama orang tua. hahaha..", kilahku sambil mucu-mucu.

Segera kupacu mobilku kembali ke Wonogiri. Jalanan kota Solo sore itu agak padat, dari rumah Zamil di daerah Manahan sampai di Gajahan saja memakan waktu 20 menitan. Sembari menunggu pesanan martabakku selesai iseng-iseng kutelpon Shinta.

"halo Shin, lagi ngopo kowe?", tanyaku memulai obrolan.

"eh Mas Dika, tumben telpon. biasa mas, ini lagi di rumah nemenin anak main", jawab Shinta.

"hooo.. emange Gara belum pulang?"

"Mas Gara pulange malam, biasane nyampe rumah udah jam 9-nan. emang Mas Dika lagi dimana sekarang?"

"ini lagi beli martabak buat ibuk di Gajahan, bentar lagi juga mau pulang"

"nah.. mumpung Mas Dika dari Solo mbok sekalian mampir ke rumahku, kan udah lama mas nggak main kesini".

"oke deh ntar tak mampir bentar", jawabku nglegani Shinta.

"oiya mas, mbok sekalian aku dibeliin creepes di gajahan, yang rasa duren ya. hehehe"

"woo.. maunya, kamu ini dari dulu ndak berubah-berubah ya, masih manja aja kalo sama aku"

Shinta cengengesan di ujung telepon, dalam hati aku sedikit merasa senang, Shinta yang kukenal dulu seakan belum hilang. Kembali memori-memori lama berputar di benakku, memainkan warna-warna lucu yang kadang membuatku tertawa sendiri.

* * *

Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat ketika aku sampai di rumah Shinta di daerah Jombor Sukoharjo. Rumah yang nampak tak berbeda bagiku, dua pilar besar di depan sebagai penyangga, serta halaman depan yang dilindungi oleh tiga pohon cemara sebagai pengayomnya. Mungkin yang sedikit berbeda cuma warna pagar rumahnya saja, seingatku dulu pagar ini berwarna hijau tua, sekarang sudah dicat menjadi warna biru tua. Aku sedikit tersenyum saat sampai di depan pagar itu, teringat lagi masa-masa dulu, di depan pagar inilah aku selalu mencium kening Shinta setiap mengantar dia pulang. Waktu cepat berlalu.

"Masuk sini mas", tiba-tiba suara Shinta membuyarkan lamunanku, dengan senyum khasnya yang sama sekali tak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Shinta sore itu nampak cantik dengan baju Bali warna putih dengan gambar papan selancar warna biru.

"Nih creepes pesenanmu, ndang dipangan keburu adem ndak enak", kataku sambil memberikan bungkusan kotak berisi creepes rasa durian kesukaannya.

"makasih mas, bayar ora iki?", tanyanya cengengesan.

"bayar dong, masa iya aku ngutang di penjual creepes", jawabku sedikit bercanda. Shinta tertawa mendengar leluconku, dia lalu memanggil anaknya. Namanya Tian.

Aku dan Shinta ngobrol banyak hal sore itu sambil melihat Tian bermain di halaman depan rumah. Hal-hal kecil di masa lalu yang selalu membuat kami berdua tertawa jika mengingatnya. Kenangan, hanya itu yang tersisa di antara kita.

"Shin, ngomong-ngomong nama lengkap Tian kuwi sopo?"

Shinta terdiam sejenak, hatinya seakan ragu untuk menjawab pertanyaanku.
"Christian.... Mahardika", jawabnya singkat. Shinta agak terbata menjawabnya.

"hmmm.. kok nganggo Dika segala kayak jenengku. hahaha.."

"harapanku sih supaya dia nanti mirip sama ayahnya... kamu mas".

Kata-kata Shinta membuatku terdiam, benakku langsung kembali mengingat kejadian di Lor Inn 6 tahun lalu. Kejadian yang ingin sekali aku lupakan, rasa berdosaku seakan tak pernah padam hingga saat ini. Kuakui aku khilaf waktu itu, memang aku dan Shinta saling mencintai, tapi dia sudah menjadi permaisuri orang lain. Kepalaku tertunduk, sejenak kemudian kupandang Tian yang sedang bermain di halaman depan rumah.

"Kamu ini ngawur wae Shin.. ojo ngomong sing ora-ora"

"aku ndak ngawur mas, asal mas tahu aku dan mas Anggara itu nggak pernah pake kontrasepsi atau KB, dua tahun aku menikah tapi aku baru hamil setelah kejadian itu. Sejak kelahiran Tian 5 tahun lalu aku juga ndak kunjung hamil lagi, aku pikir mas Anggara itu mandul".
Shinta menatapku dalam-dalam, mata itu seakan menelanjangiku yang masih seakan tak percaya dengan kenyataan ini.

"Aku ndak nyesel mas, aku juga ndak bakal nuntut apa-apa sama Mas Dika. Aku justru bahagia, paling tidak ada bagian dari Mas Dika yang masih bisa kumiliki, kupeluk dan kusayangi hingga detik ini"

Kupandangi Tian sepanjang sore itu, rambut lurusnya memang lebih mirip denganku daripada dengan Shinta ataupun Anggara yang berambut agak ikal. Matanya yang sendu seperti orang yang mengantuk itu juga sama seperti milikku. Kuperhatikan Tian yang sedang bermain bola, dia selalu menendang bola menggunakan kaki kirinya, sama persis seperti caraku.

"Dia memang anakku".

bersambung kesini→Bengawan Sore #4
»»  READMORE...

Senin, 27 Januari 2014

Bengawan Sore

Langit kota Solo siang itu terlihat cerah, terlihat sekumpulan awan putih berarakan membentuk pola perdu ilalang semu. Angin bertiup lembut dengan syahdu, melagukan syair rindu dari hati yang tak kunjung bertemu.

"kamu ada acara nggak Shin?", tanyaku kepada Shinta di ujung saluran telepon.
"nggak ada mas, emang arep ngopo?", jawab Shinta agak malas.
"jalan-jalan yuk, suntuk nih..."
"kemana?", tanya Shinta agak bersemangat.
"sak karepmu lah, bentar lagi tak jemput ya.."
"oke.. tapi aku males mandi. hehehe..", sahut Shinta.
"halah.. nggak usah mandi kowe udah cantiknya naudzubillah nduk.."
"haiyaah.. gombalanmu ora mempan mas buatku, cih!", jawab Shinta sambil terbahak.

Setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah Shinta di Sukoharjo. Jarak Wonogiri - Sukoharjo memang tak terlalu jauh, motor bebekku bisa sedikit menyombongkan diri bisa melahapnya dalam waktu 15 menit.

"ayo berangkat mas..", teriak Shinta sambil keluar dari rumah.
"lhoh.. nggak pamitan dulu sama Ibuk?", tanyaku.
"Bapak Ibuk ada acara di gereja, pulangnya paling malam nanti. aku wis pamitan mau", jawab Shinta sambil naik ke jok motorku.

Motorku segera melaju ke arah kota Solo. Entahlah mau kemana tujuan kami berdua, sudah menjadi kebiasaan kami kalo lagi suntuk muter-muter ngabisin bensin subsidi dari pemerintah buat keliling kota. Cuaca kota Solo hari itu cukup panas, kami berdua lalu mampir makan es campur di depan lapangan kota barat. Sebuah rumah makan yang cukup nyaman untuk nongkrong berdua, namanya Es Kobar, di sana ada live musiknya pula.

"Habis dari sini kita kemana nih?", tanyaku memulai obrolan dengan Shinta.
"bentar to mas, esnya masih enak nih. jangan buru-buru pergi.."

"yo aku kan takut nanti pulangnya kemaleman kayak kemaren dulu itu, trus kowe diskorsing nggak boleh main sama bapakmu yang kumisnya kayak Pak Raden itu sampai seminggu", sahutku sambil cengengesan.

"woo.. berani ya mas Dika ngatain bapakku kayak Pak Raden, awas nanti tak bilangin kapok kowe", kelakar Shinta sambil bibirnya monyong karena masih mengunyah es campur.

"hahaha.. kandhakno ora wedhi. udah tak mbayar dulu, tuh esnya buruan dihabisin", sahutku sambil ngacir ke meja kasir.

Selesai menikmati es campur di kota barat akupun kembali mengajak Shinta muter-muter kota Solo. Manahan, Pura Mangkunegaran, Sriwedari, Jalanan Slamet Riyadi sampai Alun-alun Gladak kami lalui sambil bercanda. Hari sudah menjelang sore, akupun mengajak Shinta pulang.

"eh mas, nanti berhenti dulu di jembatan bacem ya. tak kasih lihat sesuatu deh, pokoknya mas Dika pasti suka"

"apaan sih, jangan bilang mau nunjukin nenek-nenek lagi mandi di pinggir kali ya. tak cemplungin kowe nanti"

"ada deh.. pokoknya uaapik biyanget. hehehe..", jawab Shinta sambil cengengesan.

Hari sudah beranjak senja saat aku dan Shinta sampai di jembatan Bacem. Jembatan ini adalah sebuah jembatan yang menghubungan kota Solo dengan Sukoharjo, tepatnya di daerah Grogol. Segera kuparkirkan motorku, aku dan Shinta berjalan menyisir trotoar jembatan itu.

"lihat mas, langit senja di sini bagus kan, aku suka banget melihat senja di sini. pantulan warna lembayungnya di permukaan bengawan yang mengalir tenang itu seakan nggak ternilai harganya buatku"
"iya..", jawabku singkat sambil melihat wajah Shinta.

Tiba-tiba Shinta menggenggam tangan kiriku yang sedang berpegangan di jembatan, kubiarkan saja hal itu, tak bisa kupungkiri akupun menikmati saat-saat ini. Tak terasa aku dan Shinta sudah berteman lebih dari setahun sejak pertemuan pertama itu di Bus Jurusan Wonogiri-Solo di suatu pagi. Mungkin sebenarnya hatiku ini tak rela jika kami hanya berteman saja, tapi apa daya jurang pemisah di antara kami terlalu dalam untuk kuseberangi. Kutatap wajahnya yang bersinar keemasan diterpa sinar matahari senja, rambutnya yang agak ikal lembut berayun tertiup angin selatan. Shinta memang cantik, tapi gerangan apa yang membuatnya masih belum memiliki kekasih hingga saat ini aku juga tak tahu. Tiap kutanya pasti dia hanya menjawab belum ingin pacaran dulu, aku anggap itu jujur mengingat bahwa dia juga masih kelas 2 SMA di SMA Kristen 1 Solo.

"udah hampir gelap nih, mau sampai kapan nih nangkring di jembatan gini?", tanyaku memecah lamunan Shinta.

Tiba-tiba Shinta mencium pipi kiriku,
"aku sayang kamu mas Dika..."
"heh... kowe iki ngomong opo Shin? pake cium-cium pipi segala, nggak lucu ah.."
"aku sayang kowe mas, tenan...", jawab Shinta singkat.

"aku juga sayang kamu kok... tapi kamu tahu kan, kita ini berbeda. nggak mungkin Bapak dan Ibukmu setuju kalo kita berhubungan lebih dari berteman", jawabku sambil membelai wajah Shinta yang sedikit tertunduk.

"lalu sampai kapan aku nunggu mas? aku cuma sayang sama mas Dika, nggak ada yang lain. lantas apa artinya kebersamaan kita selama ini? apa artinya pelukan mas Dika saat aku terjatuh dan tersakiti? apa artinya ciuman di keningku setiap mas Dika mengantarku pulang sampai di depan gerbang rumah? apa artinya aku mencintai mas Dika jika mas Dika ternyata nggak mau membalasnya? jawab mas, jawab...". Suara Shinta mulai terisak tangis.

Wajah Shinta semakin tertunduk, air matanya mulai menganak sungai. Lembayung senja tercermin di pipinya yang basah oleh air mata. Ku akui, aku mencintainya. Aku mencintainya melebihi egoku sebagai manusia. Aku mencintainya hingga aku tak sanggup untuk berkata "iya" saat dia menanyakannya.

* * *

Sepuluh tahun berlalu, kota ini nampak tak berbeda bagiku. Mungkin hanya sedikit yang berubah, di beberapa sudut kota ini sekarang mulai di bangun mall-mall layaknya kota metropolitan. Hartono Mall, nama yang agak lucu bagiku. Mobilku mulai melaju ke arah Solo Baru, lamunanku tiba-tiba melayang kepada Shinta. Mungkin saat ini dia sudah bahagia. Mungkin saat ini dia sudah berhasil menjadi penyiar radio seperti cita-citanya dulu, atau mungkin saja saat ini dia malah sudah berkeluarga dan sedang di beranda rumahnya sambil mengajak anaknya main lempar batu bersama Miki anjing kesayangannya. Mungkin saja...

Jembatan itu nampak di ujung jalan sana. Tak ada yang berbeda, jembatan yang sama, senja yang sama pula. Kunyalakan audio di dashboard mobilku, terdengar lagu kesukaanku menemaniku melintasi jembatan yang seakan seperti mesin waktu bagiku. Bengawan Sore.

Ning pinggiring bengawan
Wayah sore tan soyo kelingan
Gawang-gawang esemmu cah ayu
Gawe sedihing atiku


bersambung ke sini →Bengawan Sore #2

»»  READMORE...

Sabtu, 25 Januari 2014

BULLY-ABLE PERSON, NGGAK ADA LO NGGAK RAME

Siapa di antara kalian yang punya genk? atau mungkin teman-teman nongkrong gitu? sudah pasti semua orang punya teman sepenongkrongan (halah). Sudah menjadi kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial. Kita nggak bisa hidup sendirian, itulah sebabnya kita butuh orang lain yang bernama teman.

Dalam sebuah geng, sudah tentu ada yang dituakan (biasanya yang rambutnya udah ubanan terus dipanggil simbah), dan juga pasti ada seseorang yang kebagian peran sebagai bahan bulan-bulanan atau bully-able person.
Ada banyak sekali nama-nama panggilan untuk si bully-able person ini. Berikut ini gue kasih beberapa nama yang menurut gue paling laris di pasar global, cekidot!

1. SI BLACK
Nama ini adalah nama yang paling ngetrend di dunia nongkrong-menongkrong. Yang dipanggil kayak gini biasanya orangnya berkulit hitam (yaiyalah), jelek, dan biasanya sih masih jomblo. Bukan bermaksud rasis sih, tapi emang kayak gitu kenyataannya. hehehe...

2. SI GENDUT
Nama ini adalah nama yang masuk jajaran 7 nama paling ngetrend di dunia nongkrong-menongkrong versi on the spot. Gue yakin di geng lo atau di komunitas lo pasti ada yang dipanggil dengan nama ini, hambok sumpah!

3. SIMBAH
Nama ini biasanya dianugerahkan kepada orang yang paling tua di geng, maksud gue tua disini adalah tua secara fisik ya, biasanya rambutnya udah ubanan, muka boros, jomblo abadi, dan banyak lagi tanda-tanda penuaan dini dalam dirinya. #respect

4. SI JABLAY
Entah apa maksud dari nama sebutan ini, tapi yang pasti nama ini mulai merangsek naik ke jajaran top five di deretan nama-nama beken di dunia gaul. Sapaan "apa kabar blay?" atau "masih hidup lo blay" pun mulai menggema di seluruh pelosok negeri. Padahal kalo ditilik artinya secara harfiah, kata jablay ini identik dengan PSK (Pedagang Sate Kiloan). Sampai saat ini belum ada pakem standar yang bisa menjelaskan pemberian nama ini untuk seorang teman.

Jangan sedih dulu kalo kebetulan lo kebagian peran menjadi bully-able person di geng lo. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang paling ngangenin di sebuah geng itu justru si bully-able person ini, nggak ada dia nggak rame. Biasanya kalo lagi nongkrong terus si "ngenes" person ini nggak ada pasti banyak yang nyariin. "si black kemana?" atau "kok si gendut nggak kelihatan?" atau "si gembul kok ra ketok, ojo-ojo dinggo ganjel ban trek bapakke?". Jangan sedih, pada dasarnya mereka semua sayang sama lo sob :)

»»  READMORE...

Sabtu, 11 Januari 2014

Kebo Nyusu Gudel

Suasana pagi itu seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan belajar mengajar diawali dengan doa. Doa khusyuk dipanjatkan oleh sekian murid yang masih polos, berharap mendapatkan ilmu yang banyak (jane yo mung clingak-clinguk). Hormat kepada Sang Merah Putih menjadi kewajiban. Meskipun petinggi-petinggi kita malah ngidak-idak dengan attitudenya.

Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi pembuka pelajaran hari ini. PR pun dikeluarkan para murid yang masih ingusan itu. Kemudian kami pun membahas soal satu persatu, dalam salah satu soal tercetak pertanyaan sebagai berikut;

"Apa yang harus dilakukan agar tanah tidak longsor?"

Seharusnya jawaban dari pertanyaan itu adalah terasering, tapi pagi itu saya dibuat heran dengan jawaban dari salah satu anak. Dia menjawab dengan kepolosannya, "Kalo dipondasi boleh tidak pak?"

"HAHAHAHA...."

Saya pun tertawa, kemudian saya bertanya lagi "Kenapa dipondasi?" Dia menjawab, "Karena bapak saya kuli bangunan pak".

Lucu, tapi terselip sebuah pesan bahwa seorang anak yang masih polos bisa menjawab dengan jawaban yang sebetulnya salah, tetapi dalam ketidaktahuannya dia bisa menjawab pertanyaan itu, dan jika dilogika jawabannya bisa juga seperti itu.

Hal ini justru memberikan saya sebuah pelajaran bahwa suatu masalah bisa diselesaikan dengan pengalaman dari sekitar kita, dan ketidaktahuan pun juga bisa terselesaikan. Seperti kata pepatah Jawa "Kebo nyusu gudel", yg artinya "Orang tua berguru kepada orang yang lebih muda". Tak perlu malu, ilmu itu bisa didapat dari mana saja.



*postingan ini saya buat berdasarkan cerita dari teman saya yaitu Neza Yuli Anggara yang saat ini menjadi guru wiyata bakti di sebuah sekolah dasar di Karanganyar*
»»  READMORE...

Rabu, 08 Januari 2014

TRAGEDI KIMIA

Siang itu sangat cerah, beberapa anak STM dengan baju seragam pramuka lengkap ala Laskar Pelangi terlihat bermain sepakbola di lapangan basket.
Tiba-tiba dari depan pintu kelas ruang 15 seorang anak yang saya lupa siapa namanya berteriak; "woy.. gurune teko!". Mendengar teriakan itu anak-anak yang bermain bola tadi lantas langsung berlari sipat kuping, nunjang palang, menerjang semua halangan untuk kembali ke kelas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

*di dalam kelas*

Guru kimia (alm. sopo jenenge lali aku) sudah ada di dalam kelas, beberapa anak yang tadi bermain bola juga sudah duduk di bangkunya masing-masing dengan khidmat dan bersahaja. Siang itu sangat panas, semakin bertambah panas karena kami habis bermain sepakbola. Kami mendengarkan pelajaran sambil kipas-kipas memakai buku tulis.

Tiba saatnya pak guru memberi pertanyaan bergilir kepada semua murid. Saat giliran pertanyaan tiba kepada seorang anak yg sedang kipas-kipas entah kenapa soal yang diberikan begitu sulit, seingatku dulu soalnya tentang rumus untuk menciptakan perdamaian dunia lewat perkawinan silang manusia dan dugong. Anak itu tentu sangat kebingungan, tapi dia tetap santai sambil kipas-kipas cari angin, pacar lepas cari yg lain (malah pantun *dikeplak*). Sebut saja anak itu Neza Yuli Anggara (bukan nama sebenarnya_red).

Melihat anak kampret itu (kalo ini baru nama sebenarnya) tidak bisa menjawab soal tersebut pak guru terlihat kesal, mungkin saja dia kesal karena dia juga sedang memikirkan harga BBM dan LPG yang semakin melambung tinggi, entahlah yang pasti pak guru itu sangat marah. Tiba-tiba dia berteriak "KALO TIDAK BISA JAWAB NGGAK USAH KIPAS-KIPAS", mendengar hal itu sontak membuat kami sekelas tertawa terbahak-bahak dan anak itu terlihat murung bagai anak kucing yang keceplung got.

(diponk)
»»  READMORE...

Minggu, 05 Januari 2014

S E L F I E

Dunia semakin berkembang, semua aspek kehidupan pun begitu cepat berubah. Tren-tren baru muncul di segala bidang. Dulu ada friendster sekarang ada facebook, dulu ada blog sekarang ada microbloging alias twitter. Bukan cuma sosial media saja yang berevolusi, dunia fotografi pun memunculkan banyak tren baru; salah satunya adalah selfie.

"apa itu selfie?"

Sebenarnya istilah ini bukanlah istilah baku dalam tatanan bahasa indonesia, istilah ini hanyalah istilah yang lazim digunakan di sosial media, tersebar secara getok tular antar teman, dan akhirnya diakui secara luas. Selfie itu adalah seni mengabadikan foto wajah sendiri. Seni? iya seni, karena fotografi itu adalah sebuah seni; walaupun banyak yang bilang selfie itu alay dan norak.

Berdasarkan pengamatan gue, selfie itu bisa dibagi menjadi beberapa jenis atau aliran. Dalam postingan kali ini gue ingin menjelaskan beberapa jenis selfie yang paling sering diterapkan dalam kehidupan sosial media di bumi pertiwi Indonesia ini. Cekidot!

1. Selfiescus Toiletsentris
Selfiescus Toiletsentris adalah seni mengabadikan foto diri sendiri saat berada di dalam toilet. Selfie jenis ini adalah selfie yang paling sering dilakukan oleh khalayak umum. Anak-anak alay biasa melakukan ini di toilet mall, diskotik, dan toilet pribadi mereka sendiri. Terlepas kegiatan apa yang sedang mereka lakukan di toilet itu tidak penting, entah itu mandi, boker, atau cuma manyunin bibir ala burung unta sedang stres di depan cermin itu terserah mereka.


2. Alaynista Upside
Alaynista Upside adalah jenis selfie dimana subjek mengambil gambar dirinya sendiri dari arah atas. Entah pake kamera HP, kamera CCTV atau pake helikopter pribadi itu terserah mereka. Di jagad sosial media pose ini seperti sudah menjadi ciri kaum alay yang paling khas. Kamera HP di atas kepala, mata melirik sedikit ke arah kamera, bibir manyun ala burung unta, dan *JEPREEET* sempurna!


3. Selfie Real Ava
Dari beberapa jenis selfie yang ada, mungkin ini yang paling menarik bagi kita. ((( KITA )))
Selfie real ava adalah selfie yang MENONJOLKAN bagian belahan dada, tentunya bukan cowok yang melakukan ini. Subjek yang melakukan selfie real ava ini biasanya tidak menampakkan wajahnya. Entah karena wajahnya jelek atau bagaimana, atau mungkin saja mukanya rata. Entahlah sampai saat ini hal ini masih rahasia dan masih diteliti oleh NASA.


Itu tadi beberapa jenis selfie yang berhasil gue teliti. Mungkin di luar sana masih banyak lagi jenis lainnya, kalo kalian pengen nambahin tambahin di comment ya. Terlepas dari norak atau tidak, yang namanya selfie itu adalah hak segala bangsa, dan itu juga merupakan salah satu cara seorang anak manusia untuk mengekspresikan dirinya.

Salam olahraga (,")9
»»  READMORE...