Senin, 24 Februari 2014

Bengawan Sore #7

"engkau seperti kekasihku yang dulu”
“sungguh hadirmu menyejukkan risau jiwaku”
“begitu lekatnya perasaanku ini padamu”
“hingga anganku kusandarkan padamu”


Hujan rintik-rintik menyambut kedatanganku di kota Paris. Lumayanlah liburan weekend dua hari ini aku habiskan di kota ini, bosan rasanya tiap akhir pekan aku hanya berdiam diri di apartemenku di Amsterdam. Sekitar pukul 14.00 aku sampai di stasiun Gare du Nord atau stasiun utara kota Paris. Rasanya tak sabar ingin segera menghirup udara kota Paris, tapi rasanya aneh juga soalnya ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke kota ini, teman-temanku yang biasa pergi bersamaku seakan sibuk dengan rutinitasnya sendiri.

“excuse me, are you Indonesian?”

Tiba-tiba ada seorang gadis menyapaku, agak terkejut aku akan hal itu, maklum saja aku tak pernah punya kenalan di Paris. Dari sekilas yang kulihat dari gadis itu sepertinya dia juga orang Indonesia, rambutnya hitam agak ikal sepanjang bahu, tingginya sebahuku, matanya hitam dan dia memakai baju hangat tebal berbulu warna coklat, sepertinya dia turis yang sedang berlibur di sini.

“iya saya orang Indonesia, kok anda tahu, siapa anda ini?"

“perkenalkan namaku Anita, maaf mengganggu anda, saya tersesat disini. Kebetulan tadi saya mendengar lagu Padi yang anda mainkan di iPod anda”
, jawabnya.

“hoo.. gitu ya, aku Dika. Aku juga sedang liburan disini, aku dari Amsterdam”

Obrolan kami berlanjut, ternyata Anita orangnya supel juga, jarang sekali aku bisa ngobrol nyambung dengan seorang cewek selain dengan Shinta dan serang temanku lagi yang berasal dari Italia. Anita rupanya sedang liburan sendirian di Paris, dia baru sampai dari Jakarta kemarin malam, cukup berani juga dia untuk ukuran seorang cewek hingga berani pergi ke negeri orang sendirian.

Cuaca Paris hari itu hujan sepanjang hari. Sebenarnya hujan sungguh tidak lazim mewarnai peralihan musim semi ke musim panas. Tapi tahun ini cuaca memang kacau. Bukan hanya hujan, bahkan suhu belasan derajat masih menyambangi kota Paris dan Munich. Padahal 3 tahun lalu awal atau pertengahan Juni itu cuaca sudah mulai panas, kecuali di kota-kota yang dekat dengan pegunungan Alpen seperti Vaduz ibukota Liechtenstein. Cukup lama aku dan Anita ngobrol di sebuah coffeeshop di dekat Promenade Plantee yaitu sebuah taman bunga yang menjulang seperti jalan layang di atas kota Paris. Pemandangannya sungguh indah, tak heran jika tiap hari banyak pasangan yang memadu kasih di taman yang memanjang sepanjang 4,5 Km ke arah Bastille itu.

“ngomong-ngomong kamu mau kemana setelah ini”, tanyaku pada Anita.

“hmmm.. aku tak tahu, aku tak ada rencana selama di Paris ini”

“bagaimana kalau kamu ikut aku ke Bercy Village, tempatnya asik buat nongkrong, ada taman bunganya juga yang tak kalah bagus dengan taman ini. Di sana suasananya masih seperti Paris tempo dulu gitu, trus ada banyak kafe-kafe unik yang asik buat kongkow malam hari”

“wah.. boleh juga tuh, kamu tuh udah kayak tour guide saja Dik. Nggak rugi aku ketemu kamu disini. Hahaha”

“ah, tak apalah.. anggap saja ini sekedar ramah-tamah sesama orang Indonesia yang sedang berada di negeri orang. Lagipula tak elok rasanya membiarkan gadis secantik kamu berjalan-jalan sendiri di kota sebesar ini".

“ah kamu bisa aja, eh ngomong-ngomong kamu menginap dimana malam ini? Bagaimana kalau kamu ikut saja menginap di hotelku, itung-itung menghemat biaya kan”
, ajak Anita dengan sedikit memaksa.

Sengaja tak kujawab tawaran Anita tadi, tapi aku yakin dia pasti sudah tahu jawabanku dari senyum di wajahku. Hari sudah sore tapi hujan gerimis masih saja mengguyur kota Paris waktu itu. Sejenak aku bisa melupakan Shinta dan semua masalah yang ada di kepalaku. Bukannya aku tak mencintainya lagi, tapi mungkin saja dengan melupakannya ini akan menjadi jalan yang terbaik bagi kami berdua.
»»  READMORE...

Sabtu, 15 Februari 2014

Tanpa Judul

Solo, awal tahun 2000.

“kamu masih inget sama Parjo ndak? Itu lho.. lanangan yang tak tinju hidungnya gara-gara godain kamu di depan kantin, mosok kemaren dia nembak aku”

“lha mbak Lastri gimana, mbak suka ndak sama Parjo?”

“ngawur kamu Sri, ndak mungkinlah aku naksir lanangan koyo Parjo, amit-amit”


Suasana jalanan sore itu terlihat lengang, nampak beberapa siswi SMA baru saja pulang dari bubaran sekolahan di daerah manahan. Aku dan Sri mengayuh sepeda kami beriringan menyusuri jalanan yang menghubungkan kota Solo dengan Colomadu. Sri tinggal di komplek AURI Colomadu, maklum bapaknya adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara. Sedangkan aku tinggal di perkampungan tak jauh dari komplek itu.

* * *

Paris, Oktober 2014.

Stasiun Gare de I’est Paris mulai ramai, arlojiku menunjukkan pukul 06.30 pagi. Cuaca pagi itu agak mendung. Sengaja aku mengambil tiket TGV yang paling pagi, aku tak mau sampai di Munich terlalu malam. TGV ini sungguh kereta yang menakjupkan, jarak Paris-Munich yang setara dengan jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya dalam waktu lima jam. Setibanya di Munich aku langsung menuju penginapan yang sudah aku pesan seminggu sebelumnya. Aku memang sudah merencanakan liburanku ini jauh-jauh hari, kepalaku seakan sudah terasa sesak oleh hitung-hitungan rumus fisika dalam pekerjaanku sebagai dosen di Universitas Paris. Aku butuh liburan.

Hari sudah menjelang malam, aku malas untuk berjalan-jalan malam itu, perjalanan dari Paris ke Munich nampaknya cukup menguras tenagaku. Selepas makan malam dan menghabiskan secangkir ginger tea di sebuah cafe di dekat penginapanku, aku putuskan untuk kembali  ke penginapan, cukup untuk hari ini. Malam itu kuhabiskan untuk membaca saja di dalam kamarku, beberapa catatan lama yang masih kusimpan rapi kubaca kembali. Memang sudah menjadi kebiasaanku sejak masih SMP aku menuliskan semua hal-hal penting yang aku lakukan dalam sebuah catatan harian. Dan malam itu aku kembali mengingat namamu; Sri.

* * *

Bel istirahat sekolah sudah berbunyi, nampak siswa-siswi SMA sedang menikmati soto di kantin sekolahan di daerah Manahan itu. Aku dan Sri berjalan berdua ke kantin, kami sangat akrab, maklum kami berdua adalah teman sebangku. Bahkan saking akrabnya banyak teman sekelas kami yang bilang kalo kami berpacaran.

Sri adalah gadis yang cantik, rambut lurusnya dibiarkannya tergerai indah memanjang, satu hal yang tak pernah luput menghiasi rambut hitamnya adalah bando. Sri sangat suka memakai bando. Pembawaannya yang santun dan tutur katanya yang lemah lembut semakin menambah kecantikannya yang bak putri solo. Sri memang cantik, jauh berbeda dengan aku yang berpenampilan tomboy layaknya anak laki-laki, tak heran jika banyak siswa pria yang naksir padanya. Jangankan pria, aku saja kadang terpukau oleh kecantikannya. Tapi entah kenapa Sri tak pernah mau pacaran, tiap kutanya pasti jawabannya adalah karena dia tidak boleh pacaran oleh orang tuanya.

“eh Sri, ngomong-ngomong nanti malem kamu ada acara ndak?”

“ora enek mbak, lha ngapain toh acara malam-malam kayak cewek ndak bener aja”

“kita ke pasar malam yuk, sesuk kan hari minggu”

“aku takut sama bapakku mbak, pasti ndak boleh”

“halah.. urusan sama bapakmu itu urusan kecil, kalo sama aku pasti diizinin”


Kantin sekolah sudah mulai sepi, siswa-siswi yang tadi makan disini sudah mulai beranjak pergi. Aku dan Sri masih duduk mengobrol di sudut kantin sambil menghabiskan es teh pesanan kami. Banyak hal yang kami bicarakan, memang teman bicaraku yang nyambung denganku ya cuma Sri, jadi aku sangat nyaman jika ngobrol dengannya. Jam istirahat hampir selesai, Sri mengajakku kembali ke kelas, kami pun berjalan beriringan ke kelas.

“suuiit... suuiittt...”. Tiba-tiba terdengar sebuah suara siulan yang mengganggu kami. Aku dan Sri menoleh, kulihat Parjo dan gerombolannya menghampiri kami. Parjo dan gerombolannya terkenal sebagai geng yang paling ditakuti di sekolah ini, tapi itu tak pernah membuatku takut menghadapi Parjo. Parjo mencoba menggoda Sri, dia mengajak Sri ke pasar malam nanti malam. Tentu saja Sri menolak ajakan Parjo, siapa juga yang mau jalan bareng cowok dekil dan urakan macam sapu ijuk itu.

“ayolah Sri.. mbok kamu mau jalan sama aku, nanti tak jajakne wedhang ronde karo arum manis”, Parjo semakin menjadi-jadi, ditariknya lengan Sri. Sri pun meronta melepaskan lengannya dari genggaman Parjo.

“ojo kurang ajar kowe jo!”, kutarik lengan Parjo yang menggangu Sri, sedetik kemudian kulayangkan kepalan tanganku tepat ke hidungnya. Parjo langsung nggeletak, hidungnya berdarah. Langsung aku meraih lengan Sri dan mengajaknya lari. Teman-teman Parjo langsung mengejarku dan Sri, tapi tak sampai mereka berhasil menangkap kami di depan kami muncul Pak Sutikno guru olahraga. Mereka pun langsung putar haluan mengurungkan niatnya mengejar kami.

* * *

Kembali aku tersenyum mengingat kejadian itu, banyak kenangan yang kualami selama tiga tahun bersama dengan Sri. Tapi sayang, selepas lulus SMA Sri berpindah ke Medan. Bapaknya dipindah tugaskan ke sana. Hingga akhirnya aku meneruskan kuliah ke Jerman beberapa tahun lalu, aku pun hilang kontak dengannya. Entah apa yang sedang kamu lakukan saat ini Sri, mungkin saat ini kau sedang mengingat kejadian ini. Atau mungkin malah saat ini kau sedang menceritakan kisah ini kepada anak-anakmu. Apapun yang terjadi padamu saat ini, semoga kau bahagia Sri.


»»  READMORE...

Sabtu, 08 Februari 2014

Bengawan Sore #5

Alun-alun Wonogiri malam itu cukup ramai, udara dingin ternyata tidak menyurutkan niat anak-anak muda yang ingin keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Dari sekian banyak anak-anak muda yang bergerombol di alun-alun itu hanya nampak satu orang saja yang duduk sendirian; aku. Aku memang hanya ingin menikmati malam ini sendiri. Tak terasa liburanku sudah hampir menemui hari terakhir, lusa aku harus kembali lagi ke Amsterdam.

“selamat malam dika”.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. Cukup terkejut aku oleh sapaan itu, aku pikir tak ada lagi yang mengenalku di kota ini semenjak kepergianku ke Belanda sepuluh tahun lalu. Aku menoleh ke samping kiriku, nampak seseorang yang sudah kukenal, orang yang selama ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.

“Anggara, tumben kowe neng wonogiri. Angin apa yang membawamu hingga kesini?”

Anggara tak menjawabku sama sekali, dia berjalan menghampiriku masih dengan raut muka yang sama. Raut muka yang nampak tak senang melihat aku kembali ke kehidupannya dan keluarganya. Cukup lama aku tak bertemu dengan Anggara, memang dulu kami pernah sekelas waktu SMP tapi kami juga tidak cukup akrab. Aku yang selengekan dan agak urakan tentu sangat berbeda dengan Anggara yang kalem dan terkesan seperti anak rumahan. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, aku tahu itu cuma basa-basi belaka, tak mungkin Anggara jauh-jauh datang ke kota ini hanya untuk mengobrolkan hal-hal sepele macam pekerjaan dan keadaan keluargaku.

“Jauhi Shinta dan Tian...”, kata Anggara padaku. Sesekali dihisapnya rokok di tangannya, nampaknya dia mulai mengungkapkan alasannya menemuiku hingga mencariku ke Wonogiri. Aku coba untuk tetap tenang, sebenarnya ada sebagian dari hatiku yang ingin menolak permintaannya itu. Aku sangat mencintai Shinta, aku juga tahu bahwa Shinta masih mencintaiku seperti dulu, apalagi sekarang aku juga tahu bahwa Tian itu adalah anakku. Tapi aku juga sadar, aku ini hanyalah duri di dalam daging yang mencoba mengoyak keluarga Anggara.

Aku masih terdiam, tak perlu banyak kata bagi seorang untuk mengungkapkan perasaannya. Nampaknya Anggara juga sudah tahu jawabanku, nampak dia tak cukup puas dengan sikapku. Dilemparkannya puntung rokoknya ke mobilku yang kuparkir di depan gerbang pendopo kabupaten tempat kami duduk malam itu.

“Aku heran denganmu Dik, kowe iki bagus, gagah, kowe duwe kabeh sing dipengeni cewek. Kamu pasti bisa dapetin semua cewek yang kau mau. Tapi kenapa kau masih kembali kesini untuk menggangguku dan Shinta?”

“Tak usah kau repot-repot menyuruhku pergi, lusa aku sudah kembali ke Belanda”, jawabku sambil berdiri dan bergegas menuju mobilku dan meninggalkan Anggara yang masih duduk di alun-alun. Tak ada gunanya aku berlama-lama dengan Anggara, aku tak mau lepas kontrol dan malah merusak malam itu dengan perkelahian.

* * *

“Mas Dika udah lama nunggunya?”

Shinta nampak cantik siang itu, dengan dress warna biru muda yang sangat serasi dengan tubuh semampainya, rambutnya nampak anggun layaknya ombak yang menggulung semua gelora. Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya yang sedalam samudera, menikmati setiap detik pertemuan yang seakan menjadi pertemuan terakhirku dengannya.

“Lho kok malah bengong? Woy.. bangun woy..”, Shinta mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajahku sambil tertawa. Suasana Mall Paragon siang itu nampak cukup lengang, maklum saja ini bukan weekend. Aku sengaja mengajak Shinta bertemu sekedar ingin berpamitan karena besok aku sudah akan kembali ke Belanda.

“Kok Tian ora melu?”, tanyaku pada Shinta sambil meminum cappucinno jelly pesananku tadi.

“Tian diajak eyangnya kondangan ke Karanganyar. Kan malah bagus gini, jadi kita bisa berduaan to mas”, Shinta mesam-mesem sambil mencubit lenganku.

“Halah... berduaan koyo arep ngopo wae Shin, awas nanti ada setan”, kataku.

“Mau ada setan kek, kuntilanak kek, pocong kek, tekek kek.. selama ada Mas Dika aku ndak takut”, jawab Shinta sambil tangannya beringsut menggandeng lenganku.

Siang itu aku dan Shinta sangat bahagia. Beberapa lagu kami nyanyikan bersama di salah satu ruangan karaoke milik seorang artis terkenal ibukota yang ada di Mall itu. Nampak binar matanya membiru seakan tak rela untuk kutinggalkan.

* * *

Kusibak gorden kamar hotel yang masih satu komplek dengan mall tempatku bertemu dengan Shinta tadi. Sinar matahari senja buru-buru menyelinap masuk ke seluruh penjuru ruangan. Hangat kurasakan sinar surya kala itu yang sedikit tertutupi mendung. Kupandangi tubuh Shinta yang masih memejamkan mata di ranjang bersprei warna putih yang nampak berantakan bekas pergumulan kami tadi. Kudekati Shinta yang masih tanpa busana dan hanya tertutup selimut. Sesekali kunkecup keningnya sambil membelai ikal rambutnya. Aku mencintainya, tak ada yang berbeda. Shinta membuka matanya perlahan, bahkan wajahnya nampak begitu cantik walaupun baru terjaga dari tidurnya. Kurebahkan tubuhku di sampingnya, Shinta kembali memelukku sambil berbisik pelan.

“Aku mencintaimu mas...”



Bersambung ke sini→Bengawan Sore #6
»»  READMORE...