Senin, 07 Maret 2016

Tentang Kehilangan

Dua hari yang lalu tepatnya hari sabtu ada satu kejadian yang membuat saya kehilangan sesuatu. Burung saya hilang. Bukan burung saya yang paling bagus sih, tapi yang hilang adalah burung jalak suren milik saya satu-satunya. Burung yang tiap hari saya rawat, saya elus-elus, saya mandiin, dan saya kasih makan; akhirnya hilang diambil maling. Kesel banget rasanya, bukan masalah harganya yang senilai 600 ribu, tapi kesel karena kehilangan sesuatu yang sudah saya rawat selama ini lalu hilang begitu saja. Ya kalo malingnya orangnya openan sih nggak apa-apa. Burung saya itu mungkin akan lebih terawat dan bahagia. Tapi kalo orangnya cuek dan nggak perhatian itu yang saya takutkan, saya takut masa depan burung saya dihabiskan dengan meratapi nasibnya. Sedih.

Sehari setelahnya ada satu kejadian yang membuat saya kehilangan lagi. Kali ini saya mendapat kabar bahwa bibi saya meninggal dunia. Adik perempuan ibu saya satu-satunya yang selama ini tinggal di Serang itu meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

Semalam saya berangkat takziah ke Serang sendirian, hujan deras mengiringi keberangkatan saya kesana. Jalan tol yang sepi saja cuma bisa saya terjang dengan kecepatan minimum karena jarak pandang yang terbatas. Dalam perjalanan itu kepala saya tak henti-hentinya berpikir, kenapa saya justru lebih merasa kehilangan sewaktu burung saya hilang ketimbang sewaktu dengar berita bibi saya meninggal? Apa saya lebih sayang kepada burung daripada saudara saya sendiri?

Lalu pikiran saya melayang ke masalah-masalah lain. Masalah Palestina, perkara LGBT, dan masalah-masalah lain yang nggak pernah saya pedulikan. Mungkin saja saya nggak pernah peduli pada masalah itu karena masalah itu tidak dekat dengan saya. Sama seperti kasus burung dan bibi saya itu, bibi saya ini memang bisa dikatakan hampir tidak pernah pulang, kemarin pulang terakhir saja sewaktu mbah kakung saya meninggal. Sedangkan burung saya itu setiap hari saya merawatnya, setiap hari saya dengar kicauannya. Wong edan, mosok menungso dibandingke karo manuk. Tapi memang begitulah adanya.

Dari situ saya belajar tentang makna kehilangan dan makna kepedulian, selama ini saya menganggap orang-orang yang sok peduli dengan masalah Palestina itu lebay, sekarang saya sadar mungkin saja mereka peduli karena mereka merasa dekat dengan masalah itu, nah perasaan dekat itulah yang belum saya miliki. Apa karena iman saya belum kuat? Bisa jadi.
Dari kejadian ini saya juga belajar bahwa semua yang kita miliki saat ini pada akhirnya nanti pasti akan pergi meninggalkan kita. Entah diambil orang, entah rusak, entah mati, atau bisa juga kita sendiri yang pergi meninggalkan mereka. Entah kapan tapi pasti akan terjadi. Dan satu lagi yang saya renungkan, kalo saya meninggal nanti, apakah ada orang yang merasa kehilangan atau tidak?
»»  READMORE...

Rabu, 27 Januari 2016

Televisi, Menjalin Persatuan dan Kesatuan

Televisi, siapa orangnya yang tidak tahu alat komunikasi yang satu ini. Alat komunikasi satu arah yang sudah ada sejak lama ini memang sudah bukan merupakan barang mewah lagi. Kabeh uwong mesti tau nonton, hampir kabeh uwong mesti duwe.
Dalam sejarahnya televisi pertama ditemukan oleh penemu asal Skotlandia, John Logie Baird. Beliau berhasil menunjukan cara pemancaran gambar-bayangan bergerak di London pada tahun 1925, diikuti gambar bergerak monokrom pada tahun 1926. Cakram pemindai Baird dapat menghasilkan gambar beresolusi 30 baris (cukup untuk memperlihatkan wajah manusia) dari lensa dengan spiral ganda. Demonstrasi oleh Baird ini telah disetujui secara umum oleh dunia sebagai demonstrasi televisi pertama. Secara umum siaran televisi biasa menggunakan siaran TV biasanya disebarkan melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 mHz. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun 2000, siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital dan streaming macam Indovision atau yang kekinian adalah Netflix.
Di sini saya tidak akan membahas tentang hal teknik perihal televisi, maklum saja saya ndak terlalu mudeng soal elektronik, saya kan dulu sekolahnya teknik mesin. Saya cuma mau ngeling-eling tentang sejarah televisi di negeri ini atau lebih khususnya menurut pandangan saya.
Televisi atau yang sering disebut dengan nama TV atau tipi kalo di kampung merupakan alat komunikasi yang sangat berguna. Arus informasi dari semua tempat bisa langsung diterima oleh semua orang. Ora perlu nganggo pulsa, ora perlu mbayar pajek, cukup modal TV dan listrik yang dimonopoli oleh PeEleN. Memang di awal kemunculannya dulu televisi juga pake pajak. Dulu namanya iuran televisi, dibayar tiap bulan pake semacam kupon yang bisa disobek satu persatu.
TVRI adalah stasiun televisi pertama di Indonesia yang mengudara pada tanggal 24 Agustus 1962. Siaran perdananya menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-17 dari Istana Negara. Siarannya ini masih berupa hitam putih. TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta. Hebatnya lagi TVRI ini dulu dibangun hanya dengan perencanaan selama 10 bulan. Pokoknya kejar tayang ngoyak tanggal untuk menyiarkan Asian Games di Jakarta.
Saya cukup beruntung lahir di keluarga yang berkecukupan, jadi alhamdulillah sejak saya kecil sudah tahu sama yang namanya televisi. Televisi pertama yang dimiliki keluarga saya dulu merknya National, bentuknya kotak dan ada penutupnya macam pintu garasi yang bisa dibuka tutup. Layarnya hitam putih soalnya zaman biyen durung usum tipi berwarna, lha wong belum ditemukan. Biasanya layarnya diberi mika warna biru biar ndak blerengen neng mripat.

Waktu saya masih kecil dulu stasiun TV cuma ada TVRI yang bening, RCTI sama SCTV masih bruwet soalnya antena TV di rumah saya cuma pake tutup panci yang digantung di blandar. Saya masih inget banget slogan TVRI zaman dulu yaitu Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Slogan ini nampaknya memang bener banget, soalnya televisi zaman dulu memang jadi sarana pemersatu bangsa, ya minimal pemersatu warga selingkungan lah. Maklum saja dulu orang yang punya televisi ndak banyak, jadi kalo mau nonton tipi ya kudu nonggo alias nonton di rumah tetangga. Saya masih inget banget gimana ramenya rumah saya tiap malem soalnya tetangga-tetangga pada nonton TV di rumah saya. Pokoknya kalo Dunia Dalam Berita belum mulai belum pada bubar.
Biarpun acaranya cuma ndak beragam seperti sekarang, TV zaman dulu adalah sarana hiburan yang hakiki. Ndak ada berita teroris, ndak ada isu ngelek-elek pemerentah, dan yang terpenting ndak ada sinetron Ganteng-Ganteng Serigala. Acaranya paling-paling Dian Rana, Rona-Rona, Depot Jamu Kirun, Den Baguse Ngarso, Album minggu, Kuis Berpacu Dalam Melody dan seinget saya dulu kalo waktu maghrib ada acara lagu-lagu khasidahan saya lupa namanya.
Jangan samakan televisi dulu dengan sekarang, soalnya beda jauh. Fungsi televisi yang hakekatnya sebagai media komunikasi dan informasi nampaknya sudah melenceng. Dulu berita soal presiden yang nongol di TV itu palingan liputan Pak Harto sedang mancing atau Pak Harto sedang ngerit pari lalu membuka acara kelompencapir. Pokoknya negeri kita dulu itu benar-benar terlihat gemah ripah loh jinawi.
Lain dulu lain sekarang, televisi zaman sekarang sudah jadi alat propaganda. Yang sana ngelek-elek yang ini, yang ini setiap hari nyinyirin yang itu. Yang itu pura-pura kesurupan jadi manusia harimau. Ngono kuwi terus, ora uwis-uwis.
Apapun yang terjadi sekarang jelas membuat saya sedih. Saya berharap semoga televisi bisa kembali seperti masa lalu, masa di mana saben sore anak-anak kecil sudah wangi, sudah mandi duduk bersila sambil didulang nonton Kotaro Minami berubah jadi Ksatria Baja Hitam, atau nonton Jiban dan Pasukan Turbo, atau setiap minggu pagi anak-anak kecil bisa puas nonton Doraemon, Dragon Ball dan kartun lain sampai tengah hari. Semoga.
»»  READMORE...