Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label #Bengawan Sore

Bengawan Sore #7

"engkau seperti kekasihku yang dulu” “sungguh hadirmu menyejukkan risau jiwaku” “begitu lekatnya perasaanku ini padamu” “hingga anganku kusandarkan padamu” Hujan rintik-rintik menyambut kedatanganku di kota Paris. Lumayanlah liburan weekend dua hari ini aku habiskan di kota ini, bosan rasanya tiap akhir pekan aku hanya berdiam diri di apartemenku di Amsterdam. Sekitar pukul 14.00 aku sampai di stasiun Gare du Nord atau stasiun utara kota Paris. Rasanya tak sabar ingin segera menghirup udara kota Paris, tapi rasanya aneh juga soalnya ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke kota ini, teman-temanku yang biasa pergi bersamaku seakan sibuk dengan rutinitasnya sendiri. “excuse me, are you Indonesian?” Tiba-tiba ada seorang gadis menyapaku, agak terkejut aku akan hal itu, maklum saja aku tak pernah punya kenalan di Paris. Dari sekilas yang kulihat dari gadis itu sepertinya dia juga orang Indonesia, rambutnya hitam agak ikal sepanjang bahu, tingginya sebahuku, matanya hitam da...

Bengawan Sore #5

Alun-alun Wonogiri malam itu cukup ramai, udara dingin ternyata tidak menyurutkan niat anak-anak muda yang ingin keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Dari sekian banyak anak-anak muda yang bergerombol di alun-alun itu hanya nampak satu orang saja yang duduk sendirian; aku. Aku memang hanya ingin menikmati malam ini sendiri. Tak terasa liburanku sudah hampir menemui hari terakhir, lusa aku harus kembali lagi ke Amsterdam. “selamat malam dika”. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. Cukup terkejut aku oleh sapaan itu, aku pikir tak ada lagi yang mengenalku di kota ini semenjak kepergianku ke Belanda sepuluh tahun lalu. Aku menoleh ke samping kiriku, nampak seseorang yang sudah kukenal, orang yang selama ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. “Anggara, tumben kowe neng wonogiri. Angin apa yang membawamu hingga kesini?” Anggara tak menjawabku sama sekali, dia berjalan menghampiriku masih dengan raut muka yang sama. Raut muka yang nampak tak senang meliha...

Bengawan Sore #3

Minggu pagi, matahari sudah sepenggalah tingginya. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat jam di layar HPku. "wis jam 9", gumamku. Kalo saja hari ini aku tak ada janji ketemuan dengan teman-temanku di Solo, pasti aku lebih memilih untuk tidur lagi. Selesai mandi aku lalu berpamitan kepada ibuk. "Buk.. aku mau ke Solo, ada janji ketemuan sama temen lamaku dulu". "oalah dik.. dik, kowe iki kalo pulang malah ndak pernah ada di rumah. kapan kowe ngajak ibukmu ini dolan", jawab ibukku sambil meneruskan kegiatannya menjahit baju. "iya.. iya.. ibukku sayang, nanti tak beliin oleh-oleh", sahutku sambil nggeloyor pergi. Kuambil kunci mobil yang tergantung di samping buffet TV lalu bergegas ke garasi. "ati-ati di jalan le..", teriak ibuk dari dalam rumah. * * * Hari sudah sore, arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.00. Beberapa botol bir dan beberapa bungkus makanan nampak berserakan di ruang tamu rumah Zamil, temanku. Aku, Zamil, Adit...

Bengawan Sore

Langit kota Solo siang itu terlihat cerah, terlihat sekumpulan awan putih berarakan membentuk pola perdu ilalang semu. Angin bertiup lembut dengan syahdu, melagukan syair rindu dari hati yang tak kunjung bertemu. "kamu ada acara nggak Shin?", tanyaku kepada Shinta di ujung saluran telepon. "nggak ada mas, emang arep ngopo?", jawab Shinta agak malas. "jalan-jalan yuk, suntuk nih..." "kemana?", tanya Shinta agak bersemangat. "sak karepmu lah, bentar lagi tak jemput ya.." "oke.. tapi aku males mandi. hehehe..", sahut Shinta. "halah.. nggak usah mandi kowe udah cantiknya naudzubillah nduk.." "haiyaah.. gombalanmu ora mempan mas buatku, cih!", jawab Shinta sambil terbahak. Setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah Shinta di Sukoharjo. Jarak Wonogiri - Sukoharjo memang tak terlalu jauh, motor bebekku bisa sedikit menyombongkan diri bisa melahapnya dalam waktu 15 menit. "...