Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

KOAS BULE

Suasana bangsal pediatric di rumah sakit marga husada di kota karang kadempel nampak seperti biasa. Banyak ranjang yang kosong, hanya beberapa saja yang terisi, kira-kira tak sampai 8 anak. Sesekali terdengar suara rengekan anak kecil yang ingin turun dari ranjang karena merasa bosan berada di dalam bangsal yang suasananya mungkin cukup traumatis bagi anak-anak. Suasana mendadak riuh, terlihat dari arah koridor beberapa mahasiswa co-schaap (koas) berjalan menuju bangsal pediatric yang letaknya berada di ujung koridor beratap genteng warna coklat tua yang mulai berjamur itu. Jas putih mereka terlihat kontras dengan tiang selasar yang sepertinya sudah lama tidak dicat ulang. Yang cukup menyita perhatian adalah di antara mereka terdapat beberapa mahasiswa exchange dari negeri Belanda, londo cewek, noni-noni lah kalo mbah-mbah kita dulu menyebutnya. Rambutnya coklat terang sebahu, matanya biru, hidungnya mancung seperti artis Hollywood. Kalo digambarkan sekarang mungkin mirip dengan pe...

Prahara Akik Ronggolawe

“SATU JUTA EUROOO... SATUU.. DUAA.. TIGA... YAAK TERJUAL KEPADA TUAN JACOBS!!” Suasana balai lelang di kota Berlin itu masih riuh rendah oleh para pialang, suara ketok palu dari juru lelang mengakhiri sebuah pelelangan atas sebuah cincin akik berwarna hijau atas nama seorang jutawan bernama Jacobs von Sneijder. Jika ditilik dari harganya sudah barang tentu akik ini bukanlah sebuah akik biasa. Sebuah rahasia yang tentunya hanya tuan Jacobs lah yang mengetahuinya sendiri saat ini. Jacobs von Sneidjer, namanya tak asing lagi di dunia arkeologi. Konsistensinya dalam penelitian atas dunia arkeologi khususnya mengenai kerajaan Majapahit membuat namanya terkenal seantero dunia. Setelah lama menghilang sekitar 5 tahun sejak terakhir kali terlihat di dusun Trowulan, kemunculannya yang pertama di Kota Berlin ini agak membuat kaget banyak pihak. “Segera siapkan pesawat ke Surabaya, sore ini aku sudah harus berangkat ke sana” , ucap Jacobs kepada ajudannya. Nampak di jari tengah kanannya seb...

Di Balik Sebuah Pintu

Suasana kamar nomor 203 itu nampak mencekam. Aku terduduk lemas mencoba mereka-reka apa saja yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Sebuah pistol masih tergenggam erat di tanganku. Nampak terkapar bersimbah darah di depanku, Beni calon suamiku. * * * Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang temanku disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna. Wajah cantik, keluarga yang mapan, dan satu yang paling membuat banyak orang merasa iri adalah Beni, calon suamiku itu memang menjadi rebutan banyak wanita. Seorang pengusaha muda, sukses, tampan, dan dia sangat mencintaiku; paling tidak itu yang aku tahu. Hari pernikahanku sudah dekat, segala persiapan sudah mendekati tahap akhir. Sebuah pesta pernikahan yang sesuai dengan mimpiku sedari dulu. Memang sih sebagian besar persiapan pernikahan kami aku yang mengaturnya. Bukannya Beni tidak mau membantu, tapi pekerjaannya seakan menenggelamkannya dalam lautan kesibukan. Aku maklum. * * * "BENI ITU BAJINGAN, TINGGALK...

Bengawan Sore #9

Sore itu berjalan seperti biasa, secangkir kopi dan sebuah notebook menemaniku menghabiskan waktu selepas pekerjaan di kantor. Jalanan kota Amsterdam makin ramai oleh kaum pekerja yang hendak pulang. Terdiam aku memandangi hamparan bunga berwarna peach di pelataran kafe tempatku menyendiri. Kanal-kanal yang tak pernah sepi itu seakan selalu menarik bagi pandanganku. "ora kroso wis sepuluh taun aku neng kene, wis wayahe aku mulih" Sudah kumantapkan dalam hati, aku akan kembali ke Indonesia. Bukannya aku bosan dengan pekerjaanku sebagai kepala teknisi di sebuah perusahaan perkapalan di kota ini, tapi jika melihat kondisi ibu yang semakin tua aku tak tega untuk tak menemaninya lagi. Beberapa hari kemudian segera aku mengajukan permohonan resign dari perusahaan tempatku bekerja. Pekerjaan bisa dicari lagi, atau mungkin aku akan memulai bisnis kecil-kecilan sendiri nanti setibanya di tanah air, yang terpenting adalah aku ingin pulang. * * * Touchdown Soekarno - Hatta Air...

Bengawan Sore #7

"engkau seperti kekasihku yang dulu” “sungguh hadirmu menyejukkan risau jiwaku” “begitu lekatnya perasaanku ini padamu” “hingga anganku kusandarkan padamu” Hujan rintik-rintik menyambut kedatanganku di kota Paris. Lumayanlah liburan weekend dua hari ini aku habiskan di kota ini, bosan rasanya tiap akhir pekan aku hanya berdiam diri di apartemenku di Amsterdam. Sekitar pukul 14.00 aku sampai di stasiun Gare du Nord atau stasiun utara kota Paris. Rasanya tak sabar ingin segera menghirup udara kota Paris, tapi rasanya aneh juga soalnya ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke kota ini, teman-temanku yang biasa pergi bersamaku seakan sibuk dengan rutinitasnya sendiri. “excuse me, are you Indonesian?” Tiba-tiba ada seorang gadis menyapaku, agak terkejut aku akan hal itu, maklum saja aku tak pernah punya kenalan di Paris. Dari sekilas yang kulihat dari gadis itu sepertinya dia juga orang Indonesia, rambutnya hitam agak ikal sepanjang bahu, tingginya sebahuku, matanya hitam da...

Tanpa Judul

Solo, awal tahun 2000. “kamu masih inget sama Parjo ndak? Itu lho.. lanangan yang tak tinju hidungnya gara-gara godain kamu di depan kantin, mosok kemaren dia nembak aku” “lha mbak Lastri gimana, mbak suka ndak sama Parjo?” “ngawur kamu Sri, ndak mungkinlah aku naksir lanangan koyo Parjo, amit-amit” Suasana jalanan sore itu terlihat lengang, nampak beberapa siswi SMA baru saja pulang dari bubaran sekolahan di daerah manahan. Aku dan Sri mengayuh sepeda kami beriringan menyusuri jalanan yang menghubungkan kota Solo dengan Colomadu. Sri tinggal di komplek AURI Colomadu, maklum bapaknya adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara. Sedangkan aku tinggal di perkampungan tak jauh dari komplek itu. * * * Paris, Oktober 2014. Stasiun Gare de I’est Paris mulai ramai, arlojiku menunjukkan pukul 06.30 pagi. Cuaca pagi itu agak mendung. Sengaja aku mengambil tiket TGV yang paling pagi, aku tak mau sampai di Munich terlalu malam. TGV ini sungguh kereta yang menakjupkan, jarak Paris-Muni...

Bengawan Sore #5

Alun-alun Wonogiri malam itu cukup ramai, udara dingin ternyata tidak menyurutkan niat anak-anak muda yang ingin keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Dari sekian banyak anak-anak muda yang bergerombol di alun-alun itu hanya nampak satu orang saja yang duduk sendirian; aku. Aku memang hanya ingin menikmati malam ini sendiri. Tak terasa liburanku sudah hampir menemui hari terakhir, lusa aku harus kembali lagi ke Amsterdam. “selamat malam dika”. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. Cukup terkejut aku oleh sapaan itu, aku pikir tak ada lagi yang mengenalku di kota ini semenjak kepergianku ke Belanda sepuluh tahun lalu. Aku menoleh ke samping kiriku, nampak seseorang yang sudah kukenal, orang yang selama ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. “Anggara, tumben kowe neng wonogiri. Angin apa yang membawamu hingga kesini?” Anggara tak menjawabku sama sekali, dia berjalan menghampiriku masih dengan raut muka yang sama. Raut muka yang nampak tak senang meliha...

Arisan Nikah

Suasana dusun Tegalrejo pagi itu mendadak gempar, Katno seorang pemuda tanggung berusia 25 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir di Rumah Sakit Bersalin Harapan Ibu depan terminal itu dijemput paksa oleh aparat desa yang terdiri dari Mas Bambang selaku hansip desa, Pak Jono selaku Pak RT, dan Pak Bondan yang kali ini bertindak sebagai Pak RW. "Bentar-bentar pak.. salahku opo? kok aku diperlakukan layaknya koruptor saja, batinku tersakiti pak", teriak Katno sambil gondelan di tiang depan rumahnya. "udah kamu nurut saja, pokoknya kamu ikut kami ke kantor, eh ke rumah Pak Karman", jawab Mas Bambang sang hansip desa sambil mengayun-ayunkan pentungannya yang wujudnya mirip barangnya Bima. Aku dan Gentho yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melongo. Dengan bekal titah perintah dari ibunya Katno akhirnya kami berdua turut serta menemani sobat kami Katno yang digelandang ke rumah Pak Karman. "kira-kira Katno salah opo ya Mul?", tanya ...

Bengawan Sore #3

Minggu pagi, matahari sudah sepenggalah tingginya. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat jam di layar HPku. "wis jam 9", gumamku. Kalo saja hari ini aku tak ada janji ketemuan dengan teman-temanku di Solo, pasti aku lebih memilih untuk tidur lagi. Selesai mandi aku lalu berpamitan kepada ibuk. "Buk.. aku mau ke Solo, ada janji ketemuan sama temen lamaku dulu". "oalah dik.. dik, kowe iki kalo pulang malah ndak pernah ada di rumah. kapan kowe ngajak ibukmu ini dolan", jawab ibukku sambil meneruskan kegiatannya menjahit baju. "iya.. iya.. ibukku sayang, nanti tak beliin oleh-oleh", sahutku sambil nggeloyor pergi. Kuambil kunci mobil yang tergantung di samping buffet TV lalu bergegas ke garasi. "ati-ati di jalan le..", teriak ibuk dari dalam rumah. * * * Hari sudah sore, arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.00. Beberapa botol bir dan beberapa bungkus makanan nampak berserakan di ruang tamu rumah Zamil, temanku. Aku, Zamil, Adit...

Bengawan Sore

Langit kota Solo siang itu terlihat cerah, terlihat sekumpulan awan putih berarakan membentuk pola perdu ilalang semu. Angin bertiup lembut dengan syahdu, melagukan syair rindu dari hati yang tak kunjung bertemu. "kamu ada acara nggak Shin?", tanyaku kepada Shinta di ujung saluran telepon. "nggak ada mas, emang arep ngopo?", jawab Shinta agak malas. "jalan-jalan yuk, suntuk nih..." "kemana?", tanya Shinta agak bersemangat. "sak karepmu lah, bentar lagi tak jemput ya.." "oke.. tapi aku males mandi. hehehe..", sahut Shinta. "halah.. nggak usah mandi kowe udah cantiknya naudzubillah nduk.." "haiyaah.. gombalanmu ora mempan mas buatku, cih!", jawab Shinta sambil terbahak. Setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah Shinta di Sukoharjo. Jarak Wonogiri - Sukoharjo memang tak terlalu jauh, motor bebekku bisa sedikit menyombongkan diri bisa melahapnya dalam waktu 15 menit. "...

TRAGEDI KIMIA

Siang itu sangat cerah, beberapa anak STM dengan baju seragam pramuka lengkap ala Laskar Pelangi terlihat bermain sepakbola di lapangan basket. Tiba-tiba dari depan pintu kelas ruang 15 seorang anak yang saya lupa siapa namanya berteriak; "woy.. gurune teko!". Mendengar teriakan itu anak-anak yang bermain bola tadi lantas langsung berlari sipat kuping, nunjang palang, menerjang semua halangan untuk kembali ke kelas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. *di dalam kelas* Guru kimia (alm. sopo jenenge lali aku) sudah ada di dalam kelas, beberapa anak yang tadi bermain bola juga sudah duduk di bangkunya masing-masing dengan khidmat dan bersahaja. Siang itu sangat panas, semakin bertambah panas karena kami habis bermain sepakbola. Kami mendengarkan pelajaran sambil kipas-kipas memakai buku tulis. Tiba saatnya pak guru memberi pertanyaan bergilir kepada semua murid. Saat giliran pertanyaan tiba kepada seorang anak yg sedang kipas-kipas entah kenapa soal yang diberikan begi...

GALAU

Tik...tok ...tik.. .tok... tik...tok. .. Bunyi langkah jarum jam dinding seakan sekeras bunyi langkah kuda pacuan, pukul 01.40. "Huft, lagi -lagi insomnia melanda malamku", kata vian dalam hatinya. Pelan-pelan dia merubah posisi tidurnya, diraihnya HP-nya yang sudah usang. "ahh... facebook kok sepi amat ya malem ini, twitter apalagi cuma jadi penonton doank!" umpatnya dalam hati. Setengah jam berlalu, Vian lalu coba mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan hari ini. Tak ada yang spesial hari ini, hari libur juga sama saja dengan hari lainnya. Hanya satu hal yang mungkin akan selalu diingatnya dari hari ini, satu berita yang datang sesaat setelah Vian pulang dari lapangan bola; berita kematian temannya yang lama tak berjumpa. Sungguh berita yang sangat menusuk relung hatinya, hingga bila dia ingat tentang hal itu dia selalu bergetar hatinya. Mungkin karena hal itu dia terserang insomnia malam itu. Pikirannya tak henti-hentinya berputar, berfikir tenta...

Operasi Plastik

Suatu hari di sebuah rumah sakit di Korea ada tiga orang pria bersahabat yg akan melakukan operasi plastik wajah. Sebut saja nama mereka Lee So Toy, Park Ki Rin, dan Choi Dong Ngo. Mereka melakukan operasi plastik sebagai kado di hari ulang tahun pacar mereka, dan rencananya mereka ingin merubah wajah mereka sesuai dengan wajah tokoh idola pacar mereka. Akhirnya waktu operasi tiba, Lee So Toy yang masuk ruang operasi duluan. Dokter: "pengen dibikin mirip siapa nih?" Lee So Toy: "pacar saya ngefans dengan Jonny Depp dok" Dokter: "baiklah, gampang itu mah.." Dua jam berlalu, akhirnya Lee So Toy keluar dari ruang operasi, wajahnya kini mirip dengan Jonny Depp. Sahabatnya kagum dengan hasil operasinya. Kini giliran Park Ki Rin yang masuk ruang operasi. Dokter: "pengen dibikin mirip siapa nih?" Park Ki Rin: "pacar saya ngefans dengan Antonio Banderas dok" Dokter: "oke, bisa diatur" Dua jam berlalu, akhirnya Park Ki Rin ...

SMS (SHORT MESSAGE SERVICE)

Semilir angin malam mulai menusuk rongga dadaku. Alun-alun kota ini mulai sepi, hanya nampak beberapa orang yang masih nongkrong menikmati gemerlap lampu kota. Malam minggu ini semakin kelabu bagiku. Aku coba mengingat-ingat kembali hal apa saja yang terjadi hari ini. Semua tak ada yang berbeda sejak kau memutuskan break sejenak dari hubungan kita. Tak terasa sudah seminggu kita tak saling menyapa, jangankan bertemu, sms darimu pun tak pernah kuterima. Memang ini salahku, aku begitu mudah mengumbar kata sayang kepada banyak hati. Tapi aku harap kamu tahu bahwa di hatiku hanya tertulis namamu.        Waktu sebulan yang kau minta untuk saling instropeksi diri seakan terasa bagai ribuan tahun penantian. Aku takut bila aku akan kehilanganmu lagi. Aku takut bila harus tanpamu lagi. Aku takut melewati sepi tanpa dirimu berada di sisi. Semua telah terjadi, aku hanya bisa menyesali semuanya.        Berawal dari sebuah pesan singkat dari seorang temanku ...

WAJAH GELISAH PARA PENCIUM SAJADAH

     Hidup... Hanya sekali, bisa dinikmati, bisa dihayati, bisa dibiarkan mengalir apa adanya.  Sadarkah kita bahwa hidup kita ini sebenarnya semu. Bayangkanlah kita ini bagaikan mainan yg dibuat dan disetting dari awal dan dibuat sedemikian rupa agar melaksanakan semua yang sudah ditentukan.  Lalu untuk apa kita gelisah? untuk apa kita takut? untuk apa kita risau akan hidup kita kedepan nanti?  Hei manusia!!  Kemana Tuhanmu? tak yakinkah kau pada Dia? H ingga hanya karena masalah dunia kau seakan lupa padaNya.      Sebut saja namanya Yono, dia teman satu kerjaanku. Sebenarnya dia tidak satu departemen denganku, tapi kami sering ngobrol saat di tempat kerja. Kita berdua sama-sama selenge'an, mungkin itu yang membuat kita nyambung. Menurutku Yono ini jauh dari kata "baik-baik", minuman keras sudah jadi hal biasa baginya. Namun ada satu ceritanya yang membuat hatiku seakan tak percaya, cerita ini tentang seorang teman lamanya. ...

SYETAN DAN ULAMA, KEBODOHAN DI DALAM KEPANDAIAN

     Suatu hari seorang ulama ternama sedang dalam perjalanan menuju sebuah desa untuk mensyiarkan agama. Desa itu terletak jauh di pelosok, untuk mencapainya ulama itu harus berjalan kaki menerobos hutan dan melintasi sungai. Ulama itu melakukan ini semata-mata untuk menyebarkan ajaran agama yang sangat mulia.      Hari sudah beranjak siang, matahari sudah berada di singgasana tertingginya. Tibalah ulama itu di pinggir sungai. Ulama itu bermaksud untuk beristirahat dahulu sekaligus bersembahyang dulu di pinggir sungai itu. Selepas sembahyang ulama itu memejamkan matanya, tanpa sadar akhirnya dia tertidur karena lelah.      Akhirnya ulama itu terbangun, mungkin dia tertidur selama satu jam di pinggir sungai itu. "Baiklah, akan kulanjutkan lagi perjalanan ini.tinggal menyeberangi sungai ini dan sampailah aku di desa itu", kata ulama itu dalam hati. Tiba-tiba saat akan menyeberangi sungai dia melihat di pinggir sungai sesosok tubuh tua dan bu...