Langsung ke konten utama

Postingan

Prahara Akik Ronggolawe

“SATU JUTA EUROOO... SATUU.. DUAA.. TIGA... YAAK TERJUAL KEPADA TUAN JACOBS!!” Suasana balai lelang di kota Berlin itu masih riuh rendah oleh para pialang, suara ketok palu dari juru lelang mengakhiri sebuah pelelangan atas sebuah cincin akik berwarna hijau atas nama seorang jutawan bernama Jacobs von Sneijder. Jika ditilik dari harganya sudah barang tentu akik ini bukanlah sebuah akik biasa. Sebuah rahasia yang tentunya hanya tuan Jacobs lah yang mengetahuinya sendiri saat ini. Jacobs von Sneidjer, namanya tak asing lagi di dunia arkeologi. Konsistensinya dalam penelitian atas dunia arkeologi khususnya mengenai kerajaan Majapahit membuat namanya terkenal seantero dunia. Setelah lama menghilang sekitar 5 tahun sejak terakhir kali terlihat di dusun Trowulan, kemunculannya yang pertama di Kota Berlin ini agak membuat kaget banyak pihak. “Segera siapkan pesawat ke Surabaya, sore ini aku sudah harus berangkat ke sana” , ucap Jacobs kepada ajudannya. Nampak di jari tengah kanannya seb...

Pulang

Waktu seakan berhenti ketika kau pergi jauh. Dan saat kau kembali, tanpa kau sadari ada banyak hal yang telah berubah. Tentang pulang. Semua hal di kota ini ibarat mesin waktu. Laksana wifi super cepat yang mendownload semua kenangan masa lalu. Terminal Giri Adipura Wonogiri, februari 2015.

Di Balik Sebuah Pintu

Suasana kamar nomor 203 itu nampak mencekam. Aku terduduk lemas mencoba mereka-reka apa saja yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Sebuah pistol masih tergenggam erat di tanganku. Nampak terkapar bersimbah darah di depanku, Beni calon suamiku. * * * Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang temanku disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna. Wajah cantik, keluarga yang mapan, dan satu yang paling membuat banyak orang merasa iri adalah Beni, calon suamiku itu memang menjadi rebutan banyak wanita. Seorang pengusaha muda, sukses, tampan, dan dia sangat mencintaiku; paling tidak itu yang aku tahu. Hari pernikahanku sudah dekat, segala persiapan sudah mendekati tahap akhir. Sebuah pesta pernikahan yang sesuai dengan mimpiku sedari dulu. Memang sih sebagian besar persiapan pernikahan kami aku yang mengaturnya. Bukannya Beni tidak mau membantu, tapi pekerjaannya seakan menenggelamkannya dalam lautan kesibukan. Aku maklum. * * * "BENI ITU BAJINGAN, TINGGALK...

Indonesia, Dewasalah

Gegap gempita pesta demokrasi di negeri ini hampir menemui titik puncak. Proses pemilihan presiden langsung oleh rakyat sudah terlaksana pagi ini. Tapi polemik bukan berarti terhenti disini, cerita-cerita lucu terkait hasil quick count yang simpang siur antara lembaga survey yang satu dengan yang lainnya justru menjadi suatu babak baru dari sebuah drama yang seakan tak berakhir. Semua kubu mendeklarasikan kemenangannya. Tak ada yang kalah, lucu. Ada sebuah celetukan dari obrolan warung kopi yang cukup menggelitik. "Bagi saja negaranya jadi dua" Terdengar lucu atau malah terdengar gila, tapi bukan berarti hal ini tidak mungkin terjadi. Kerajaan Mataram dulu juga terpecah menjadi dua akibat dari konflik perebutan kekuasaan. Raja keraton Surakarta sampai sekarang juga ada dua. Naudzubillahi min dzalik. Kini pertandingan seakan memasuki babak adu penalty, kedua kubu ibarat dua kesebelasan sepakbola yang menunggu siapa yang menang melalui hasil rekap KPU yang resmi. Bolehlah...

Terus Belajar dan Jangan Berhenti Berkarya

Hidup ini ibarat sebuah kebun buah yang tak pernah mengenal musim panen. Setiap hari selalu saja ada pelajaran yang bisa kita petik dalam hidup ini. Bertemu dengan orang-orang hebat yang baru selalu mengingatkanku bahwa aku belum jadi "apa-apa" dalam hidup ini. Sejenak lupakanlah negara dan teruslah berkarya. (ngendid @rasarab lagi bikin postingan di Hotel Atlet Century Senayan Jakarta)

Sepenggal Cerita Senja

...akulah senja yang setia di ujung peron kereta. menanti kedatanganmu kembali ke asal mula. ...akulah janji yang tak pernah mengenal kata lupa. walaupun di hatimu kini tak ada lagi kata setia. (diponk)

Bengawan Sore #9

Sore itu berjalan seperti biasa, secangkir kopi dan sebuah notebook menemaniku menghabiskan waktu selepas pekerjaan di kantor. Jalanan kota Amsterdam makin ramai oleh kaum pekerja yang hendak pulang. Terdiam aku memandangi hamparan bunga berwarna peach di pelataran kafe tempatku menyendiri. Kanal-kanal yang tak pernah sepi itu seakan selalu menarik bagi pandanganku. "ora kroso wis sepuluh taun aku neng kene, wis wayahe aku mulih" Sudah kumantapkan dalam hati, aku akan kembali ke Indonesia. Bukannya aku bosan dengan pekerjaanku sebagai kepala teknisi di sebuah perusahaan perkapalan di kota ini, tapi jika melihat kondisi ibu yang semakin tua aku tak tega untuk tak menemaninya lagi. Beberapa hari kemudian segera aku mengajukan permohonan resign dari perusahaan tempatku bekerja. Pekerjaan bisa dicari lagi, atau mungkin aku akan memulai bisnis kecil-kecilan sendiri nanti setibanya di tanah air, yang terpenting adalah aku ingin pulang. * * * Touchdown Soekarno - Hatta Air...