Rabu, 12 September 2012

SENANDUNG RINDU


Aku yang merindu, 
merenda-renda kembali sisa-sisa rintihan sunyi
Pada sang waktu aku kalah telak, hingga aku jatuh tergeletak
Tak peduli tulang tubuhku hancur dan retak, 
aku pasti akan meraihmu kelak

Saat rindu bukan lagi sebuah bualan, 
jarak dan waktu hanyalah sebatas satuan
Mencaci dan mencemooh diri
Mengerang dalam temaram malam

Saat rindu semakin memuncak
Sebuah sapaan bagai wahyu dari jibril,
mencerahkan dan memberi petunjuk bagi jiwa-jiwa yg tersesat

Aku kembali ke pelukan lazuardi
Saat horizon pagi semakin nyata di depan mata...
Fajar menyingkap segaris jingga, 
membuka kembali jendela-jendela rahasia

Saat sang raja kembali berkuasa, 
desah nafasmu semakin terasa nyata
Membasuh keringnya telaga hati yg telah lama terjajah sepi
Entah nyata atau tidak, aku rindu merindukanmu...

(13092012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar