Selasa, 04 November 2014

Di Balik Sebuah Pintu

Suasana kamar nomor 203 itu nampak mencekam. Aku terduduk lemas mencoba mereka-reka apa saja yang telah terjadi beberapa saat yang lalu. Sebuah pistol masih tergenggam erat di tanganku. Nampak terkapar bersimbah darah di depanku, Beni calon suamiku.

* * *

Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang temanku disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna. Wajah cantik, keluarga yang mapan, dan satu yang paling membuat banyak orang merasa iri adalah Beni, calon suamiku itu memang menjadi rebutan banyak wanita. Seorang pengusaha muda, sukses, tampan, dan dia sangat mencintaiku; paling tidak itu yang aku tahu.

Hari pernikahanku sudah dekat, segala persiapan sudah mendekati tahap akhir. Sebuah pesta pernikahan yang sesuai dengan mimpiku sedari dulu. Memang sih sebagian besar persiapan pernikahan kami aku yang mengaturnya. Bukannya Beni tidak mau membantu, tapi pekerjaannya seakan menenggelamkannya dalam lautan kesibukan. Aku maklum.

* * *

"BENI ITU BAJINGAN, TINGGALKAN DIA RANI SEBELUM SEMUA TERLAMBAT!!"

Kurang lebih seperti itulah beberapa pesan singkat yang akhir-akhir ini sering kuterima di ponselku. Nomor asing dan tak ada seorang temanku pun yang tahu siapa itu. Aku anggap saja itu hanyalah sebagai cobaan dan godaan untukku, kata orang-orang jika seseorang sudah mendekati pernikahannya pasti ada saja cobaannya. Aku coba untuk menutupi hal itu dari Beni, aku tak mau meribetkannya dengan urusan remeh temeh semacam ini.

Semakin hari pesan-pesan itu semakin banyak masuk ke ponselku, deringan panggilan masuk pun seakan menjadi teror bagiku di setiap malam. Seminggu lagi hari pernikahanku, aku tak tahan lagi. Kucoba membalas pesan orang itu.

"Siapa kamu? mana buktinya kamu menuduh calon suamiku seorang bajingan?!!"

"malam ini datanglah ke Hotel Wijaya, akan kubuktikan semua kata-kataku"

Aku sedikit bimbang, kuturuti atau tidak orang itu. Tapi sudah kumantapkan hatiku, aku harus menyelesaikan semua ini. Segera ku bergegas ke ruang kerja ayahku, kuambil pistol ayah yang selalu disembunyikannya di bawah laci meja untuk berjaga-jaga. Aku tahu ayah memang selalu menaruh sebuah pistol di bawah lacinya, pekerjaannya sebagai seorang pengacara terkadang menempatkannya pada sebuah kasus yang punya resiko tinggi. Oleh karena itu ayah selalu berjaga-jaga.

* * *

Mobilku sudah berada di depan Hotel, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku, "Kamar nomor 203".
Dadaku berdegup kencang, tak dapat kubayangkan gerangan apa yang akan kujumpai di balik pintu kamar itu nanti. Kulangkahkan kakiku. Lift membawaku ke lantai 5, kamar itu ada tepat di samping lift. Kuberanikan untuk mengetuk pintu kamar itu.

"Room service"

Pintu terbuka, terlihat di depanku Sherly sahabat karipku berdiri memakai gaun tidur warna biru.

"RAA... RAA.. RANI..."

Langsung kupaksakan tubuhku menerobos masuk ke dalam kamar itu, sebuah pemandangan yang benar-benar tak pernah kuduga. Beni tertidur di ranjang dengan hanya tertutupi selimut. Kepalaku seakan berputar hebat, dadaku seakan meledak.

"BAJINGAN KAMU MAS!!!

Apa yang terjadi setelah itu sudah bisa ditebak, aku dan Beni bertengkar hebat. Entah setan mana yang merasuki tubuhku, yang pasti kini tiga buah peluru dari pistol yang kugenggam telah berpindah tempat ke dalam dada Beni. Sherly hanya bisa berteriak histeris di sudut kamar. Mulutnya tak henti-hentinya meminta maaf padaku.

Suara sirine polisi membuyarkan lamunanku. Segalanya nampak seperti sebuah mimpi buruk bagiku. Semua mimpi yang aku bangun selama ini hancur dalam semalam.

* * *

Namaku Rani, seorang gadis biasa yang oleh beberapa orang disebut-sebut memiliki hidup yang sempurna, dan aku tak pernah menyesali apa yang telah aku lakukan.

(diponk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar