Minggu, 08 Maret 2015

Prahara Akik Ronggolawe

“SATU JUTA EUROOO... SATUU.. DUAA.. TIGA... YAAK TERJUAL KEPADA TUAN JACOBS!!”

Suasana balai lelang di kota Berlin itu masih riuh rendah oleh para pialang, suara ketok palu dari juru lelang mengakhiri sebuah pelelangan atas sebuah cincin akik berwarna hijau atas nama seorang jutawan bernama Jacobs von Sneijder. Jika ditilik dari harganya sudah barang tentu akik ini bukanlah sebuah akik biasa. Sebuah rahasia yang tentunya hanya tuan Jacobs lah yang mengetahuinya sendiri saat ini.

Jacobs von Sneidjer, namanya tak asing lagi di dunia arkeologi. Konsistensinya dalam penelitian atas dunia arkeologi khususnya mengenai kerajaan Majapahit membuat namanya terkenal seantero dunia. Setelah lama menghilang sekitar 5 tahun sejak terakhir kali terlihat di dusun Trowulan, kemunculannya yang pertama di Kota Berlin ini agak membuat kaget banyak pihak.

“Segera siapkan pesawat ke Surabaya, sore ini aku sudah harus berangkat ke sana”, ucap Jacobs kepada ajudannya. Nampak di jari tengah kanannya sebuah cincin akik yang serupa dengan cincin yang barusan dia menangkan, hanya saja cincin di jari tangannya ini berwarna biru. Jacobs dan timnya langsung bergegas meninggalkan Jerman dan menuju ke Surabaya setelah pelelangan. Nampak di wajah mereka sebuah rona optimis akan suatu mimpi besar yang akan segera mereka raih.

“Cincin kedua sudah aku miliki, selanjutnya cincin ketiga pasti akan segera muncul”, ucap Jacobs dalam hati.

••••

Demam batu akik sedang melanda  seluruh negeri, tak terkecuali di sebuah dusun bernama Trowulan di Mojokerto. Bardi namanya, seorang pemuda yatim piatu yang tinggal di dusun itu mendadak sumringah. Baru saja dia mendapat warisan dari kakeknya berupa cincin akik. Tak sabar rasanya Bardi ingin memamerkan cincin bermata merah delima itu kepada teman-temannya. Tapi niatnya urung dilakukan karena kakeknya berpesan untuk tidak mengeluarkan cincin itu dari kotak penyimpanannya.

“Akik iki akik sekti, Le. Ojo pisan-pisan kowe wani ngethokne soko wadahe”, ujar Mbah Mangun, kakek Bardi.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar