Sabtu, 08 Februari 2014

Bengawan Sore #5

Alun-alun Wonogiri malam itu cukup ramai, udara dingin ternyata tidak menyurutkan niat anak-anak muda yang ingin keluar rumah untuk menikmati malam minggu. Dari sekian banyak anak-anak muda yang bergerombol di alun-alun itu hanya nampak satu orang saja yang duduk sendirian; aku. Aku memang hanya ingin menikmati malam ini sendiri. Tak terasa liburanku sudah hampir menemui hari terakhir, lusa aku harus kembali lagi ke Amsterdam.

“selamat malam dika”.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah sapaan. Cukup terkejut aku oleh sapaan itu, aku pikir tak ada lagi yang mengenalku di kota ini semenjak kepergianku ke Belanda sepuluh tahun lalu. Aku menoleh ke samping kiriku, nampak seseorang yang sudah kukenal, orang yang selama ini telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.

“Anggara, tumben kowe neng wonogiri. Angin apa yang membawamu hingga kesini?”

Anggara tak menjawabku sama sekali, dia berjalan menghampiriku masih dengan raut muka yang sama. Raut muka yang nampak tak senang melihat aku kembali ke kehidupannya dan keluarganya. Cukup lama aku tak bertemu dengan Anggara, memang dulu kami pernah sekelas waktu SMP tapi kami juga tidak cukup akrab. Aku yang selengekan dan agak urakan tentu sangat berbeda dengan Anggara yang kalem dan terkesan seperti anak rumahan. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, aku tahu itu cuma basa-basi belaka, tak mungkin Anggara jauh-jauh datang ke kota ini hanya untuk mengobrolkan hal-hal sepele macam pekerjaan dan keadaan keluargaku.

“Jauhi Shinta dan Tian...”, kata Anggara padaku. Sesekali dihisapnya rokok di tangannya, nampaknya dia mulai mengungkapkan alasannya menemuiku hingga mencariku ke Wonogiri. Aku coba untuk tetap tenang, sebenarnya ada sebagian dari hatiku yang ingin menolak permintaannya itu. Aku sangat mencintai Shinta, aku juga tahu bahwa Shinta masih mencintaiku seperti dulu, apalagi sekarang aku juga tahu bahwa Tian itu adalah anakku. Tapi aku juga sadar, aku ini hanyalah duri di dalam daging yang mencoba mengoyak keluarga Anggara.

Aku masih terdiam, tak perlu banyak kata bagi seorang untuk mengungkapkan perasaannya. Nampaknya Anggara juga sudah tahu jawabanku, nampak dia tak cukup puas dengan sikapku. Dilemparkannya puntung rokoknya ke mobilku yang kuparkir di depan gerbang pendopo kabupaten tempat kami duduk malam itu.

“Aku heran denganmu Dik, kowe iki bagus, gagah, kowe duwe kabeh sing dipengeni cewek. Kamu pasti bisa dapetin semua cewek yang kau mau. Tapi kenapa kau masih kembali kesini untuk menggangguku dan Shinta?”

“Tak usah kau repot-repot menyuruhku pergi, lusa aku sudah kembali ke Belanda”, jawabku sambil berdiri dan bergegas menuju mobilku dan meninggalkan Anggara yang masih duduk di alun-alun. Tak ada gunanya aku berlama-lama dengan Anggara, aku tak mau lepas kontrol dan malah merusak malam itu dengan perkelahian.

* * *

“Mas Dika udah lama nunggunya?”

Shinta nampak cantik siang itu, dengan dress warna biru muda yang sangat serasi dengan tubuh semampainya, rambutnya nampak anggun layaknya ombak yang menggulung semua gelora. Sejenak aku tenggelam dalam tatapannya yang sedalam samudera, menikmati setiap detik pertemuan yang seakan menjadi pertemuan terakhirku dengannya.

“Lho kok malah bengong? Woy.. bangun woy..”, Shinta mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajahku sambil tertawa. Suasana Mall Paragon siang itu nampak cukup lengang, maklum saja ini bukan weekend. Aku sengaja mengajak Shinta bertemu sekedar ingin berpamitan karena besok aku sudah akan kembali ke Belanda.

“Kok Tian ora melu?”, tanyaku pada Shinta sambil meminum cappucinno jelly pesananku tadi.

“Tian diajak eyangnya kondangan ke Karanganyar. Kan malah bagus gini, jadi kita bisa berduaan to mas”, Shinta mesam-mesem sambil mencubit lenganku.

“Halah... berduaan koyo arep ngopo wae Shin, awas nanti ada setan”, kataku.

“Mau ada setan kek, kuntilanak kek, pocong kek, tekek kek.. selama ada Mas Dika aku ndak takut”, jawab Shinta sambil tangannya beringsut menggandeng lenganku.

Siang itu aku dan Shinta sangat bahagia. Beberapa lagu kami nyanyikan bersama di salah satu ruangan karaoke milik seorang artis terkenal ibukota yang ada di Mall itu. Nampak binar matanya membiru seakan tak rela untuk kutinggalkan.

* * *

Kusibak gorden kamar hotel yang masih satu komplek dengan mall tempatku bertemu dengan Shinta tadi. Sinar matahari senja buru-buru menyelinap masuk ke seluruh penjuru ruangan. Hangat kurasakan sinar surya kala itu yang sedikit tertutupi mendung. Kupandangi tubuh Shinta yang masih memejamkan mata di ranjang bersprei warna putih yang nampak berantakan bekas pergumulan kami tadi. Kudekati Shinta yang masih tanpa busana dan hanya tertutup selimut. Sesekali kunkecup keningnya sambil membelai ikal rambutnya. Aku mencintainya, tak ada yang berbeda. Shinta membuka matanya perlahan, bahkan wajahnya nampak begitu cantik walaupun baru terjaga dari tidurnya. Kurebahkan tubuhku di sampingnya, Shinta kembali memelukku sambil berbisik pelan.

“Aku mencintaimu mas...”



Bersambung ke sini→Bengawan Sore #6

1 komentar: