Sabtu, 15 Februari 2014

Tanpa Judul

Solo, awal tahun 2000.

“kamu masih inget sama Parjo ndak? Itu lho.. lanangan yang tak tinju hidungnya gara-gara godain kamu di depan kantin, mosok kemaren dia nembak aku”

“lha mbak Lastri gimana, mbak suka ndak sama Parjo?”

“ngawur kamu Sri, ndak mungkinlah aku naksir lanangan koyo Parjo, amit-amit”


Suasana jalanan sore itu terlihat lengang, nampak beberapa siswi SMA baru saja pulang dari bubaran sekolahan di daerah manahan. Aku dan Sri mengayuh sepeda kami beriringan menyusuri jalanan yang menghubungkan kota Solo dengan Colomadu. Sri tinggal di komplek AURI Colomadu, maklum bapaknya adalah seorang anggota TNI Angkatan Udara. Sedangkan aku tinggal di perkampungan tak jauh dari komplek itu.

* * *

Paris, Oktober 2014.

Stasiun Gare de I’est Paris mulai ramai, arlojiku menunjukkan pukul 06.30 pagi. Cuaca pagi itu agak mendung. Sengaja aku mengambil tiket TGV yang paling pagi, aku tak mau sampai di Munich terlalu malam. TGV ini sungguh kereta yang menakjupkan, jarak Paris-Munich yang setara dengan jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya dalam waktu lima jam. Setibanya di Munich aku langsung menuju penginapan yang sudah aku pesan seminggu sebelumnya. Aku memang sudah merencanakan liburanku ini jauh-jauh hari, kepalaku seakan sudah terasa sesak oleh hitung-hitungan rumus fisika dalam pekerjaanku sebagai dosen di Universitas Paris. Aku butuh liburan.

Hari sudah menjelang malam, aku malas untuk berjalan-jalan malam itu, perjalanan dari Paris ke Munich nampaknya cukup menguras tenagaku. Selepas makan malam dan menghabiskan secangkir ginger tea di sebuah cafe di dekat penginapanku, aku putuskan untuk kembali  ke penginapan, cukup untuk hari ini. Malam itu kuhabiskan untuk membaca saja di dalam kamarku, beberapa catatan lama yang masih kusimpan rapi kubaca kembali. Memang sudah menjadi kebiasaanku sejak masih SMP aku menuliskan semua hal-hal penting yang aku lakukan dalam sebuah catatan harian. Dan malam itu aku kembali mengingat namamu; Sri.

* * *

Bel istirahat sekolah sudah berbunyi, nampak siswa-siswi SMA sedang menikmati soto di kantin sekolahan di daerah Manahan itu. Aku dan Sri berjalan berdua ke kantin, kami sangat akrab, maklum kami berdua adalah teman sebangku. Bahkan saking akrabnya banyak teman sekelas kami yang bilang kalo kami berpacaran.

Sri adalah gadis yang cantik, rambut lurusnya dibiarkannya tergerai indah memanjang, satu hal yang tak pernah luput menghiasi rambut hitamnya adalah bando. Sri sangat suka memakai bando. Pembawaannya yang santun dan tutur katanya yang lemah lembut semakin menambah kecantikannya yang bak putri solo. Sri memang cantik, jauh berbeda dengan aku yang berpenampilan tomboy layaknya anak laki-laki, tak heran jika banyak siswa pria yang naksir padanya. Jangankan pria, aku saja kadang terpukau oleh kecantikannya. Tapi entah kenapa Sri tak pernah mau pacaran, tiap kutanya pasti jawabannya adalah karena dia tidak boleh pacaran oleh orang tuanya.

“eh Sri, ngomong-ngomong nanti malem kamu ada acara ndak?”

“ora enek mbak, lha ngapain toh acara malam-malam kayak cewek ndak bener aja”

“kita ke pasar malam yuk, sesuk kan hari minggu”

“aku takut sama bapakku mbak, pasti ndak boleh”

“halah.. urusan sama bapakmu itu urusan kecil, kalo sama aku pasti diizinin”


Kantin sekolah sudah mulai sepi, siswa-siswi yang tadi makan disini sudah mulai beranjak pergi. Aku dan Sri masih duduk mengobrol di sudut kantin sambil menghabiskan es teh pesanan kami. Banyak hal yang kami bicarakan, memang teman bicaraku yang nyambung denganku ya cuma Sri, jadi aku sangat nyaman jika ngobrol dengannya. Jam istirahat hampir selesai, Sri mengajakku kembali ke kelas, kami pun berjalan beriringan ke kelas.

“suuiit... suuiittt...”. Tiba-tiba terdengar sebuah suara siulan yang mengganggu kami. Aku dan Sri menoleh, kulihat Parjo dan gerombolannya menghampiri kami. Parjo dan gerombolannya terkenal sebagai geng yang paling ditakuti di sekolah ini, tapi itu tak pernah membuatku takut menghadapi Parjo. Parjo mencoba menggoda Sri, dia mengajak Sri ke pasar malam nanti malam. Tentu saja Sri menolak ajakan Parjo, siapa juga yang mau jalan bareng cowok dekil dan urakan macam sapu ijuk itu.

“ayolah Sri.. mbok kamu mau jalan sama aku, nanti tak jajakne wedhang ronde karo arum manis”, Parjo semakin menjadi-jadi, ditariknya lengan Sri. Sri pun meronta melepaskan lengannya dari genggaman Parjo.

“ojo kurang ajar kowe jo!”, kutarik lengan Parjo yang menggangu Sri, sedetik kemudian kulayangkan kepalan tanganku tepat ke hidungnya. Parjo langsung nggeletak, hidungnya berdarah. Langsung aku meraih lengan Sri dan mengajaknya lari. Teman-teman Parjo langsung mengejarku dan Sri, tapi tak sampai mereka berhasil menangkap kami di depan kami muncul Pak Sutikno guru olahraga. Mereka pun langsung putar haluan mengurungkan niatnya mengejar kami.

* * *

Kembali aku tersenyum mengingat kejadian itu, banyak kenangan yang kualami selama tiga tahun bersama dengan Sri. Tapi sayang, selepas lulus SMA Sri berpindah ke Medan. Bapaknya dipindah tugaskan ke sana. Hingga akhirnya aku meneruskan kuliah ke Jerman beberapa tahun lalu, aku pun hilang kontak dengannya. Entah apa yang sedang kamu lakukan saat ini Sri, mungkin saat ini kau sedang mengingat kejadian ini. Atau mungkin malah saat ini kau sedang menceritakan kisah ini kepada anak-anakmu. Apapun yang terjadi padamu saat ini, semoga kau bahagia Sri.


2 komentar:

  1. ini tulisan asli bikinan kamu ropi?? keren loh... i love it.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya iyalah asli tulisanku, makasih ya mbak cepti :)

      Hapus