Kamis, 02 Agustus 2012

TERBANGLAH LAGI GARUDAKU

       Garuda di dadaku...
       Garuda kebanggaanku...
       Kuyakin hari ini pasti menang...


       Sepenggal lirik dari lagu "garuda di dadaku" yang dibawakan band netral tersebut seakan membakar semangat para pecinta sepakbola Indonesia. Yah... paling tidak semangat itulah yang membuat sepakbola Indonesia masih bisa bertahan hingga saat ini. Terlepas dari segala konflik yang tak kunjung jelas akhir penyelesaiannya, paling tidak sepakbola Indonesia masih punya para pencintanya yang tetap setia.
       Sebenarnya konflik ini bukanlah konflik sepakbola semata. Di dalamnya sarat akan muatan politik dan bisnis yang sangat kuat. Kita tak bisa pungkiri bahwa negeri kita memang negeri yang amat ribet, tapi mau sampai kapan kita akan berkutat dengan masalah ini. Di saat bangsa lain sudah mulai berlari kita malah masih sibuk membenarkan tali sepatu kita yang kusut. Ironis.
       Piala AFF sebentar lagi akan di gelar. Laga-laga pemanasan pun sudah mulai dipersiapkan. Tapi lagi-lagi masalah dualisme kompetisi seakan mengkebiri kekuatan timnas kita. Saya cukup salut dengan para pemain senior yang berani melawan "titah" si ketua gadungan untuk membela timnas. Kenapa saya sebut sebagai ketua gadungan? ya mau gimana lagi wong FIFA aja ngak mengakuinya kok, lagian saat pertemuan bersama di Kuala Lumpur yang lalu kan mereka sudah sepakat untuk membubarkan KPSI dan si ketua gadungan setuju kembali menjadi anggota exco PSSI lagi. Lantas kenapa dia sekarang kembali main larang-larang pemain dari ISL untuk membela timnas. MUNAFIK.
       Sebenarnya kualitas pemain kita bisa dibilang di atas rata-rata bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan asia tenggara. Tapi sangat ironis bila dilihat pencapaian kita sejauh ini timnas kita hanya mampu mempersembahkan satu medali emas di ajang Sea Games. Piala AFF besok seakan terasa semakin berat karena beberapa pemain masih terbelenggu oleh pihak klub yang enggan melepas mereka karena berbagai alasan. Sangat disayangkan memang, saat pihak PSSI sendiri sudah memberi lampu hijau malah dari pihak klub yang terkesan oga-ogahan dan malah memperpanjang masalah. Beberapa pemain yang bermain di luar negeripun seakan terlupakan karena bermain di klub milik kubu lawan. Ini sungguh ironis, padahal seharusnya para pemain yang bermain di luar negeri ini bisa menjadi kekuatan yang amat besar. Syamsir Alam contohnya.
       Terlepas dari semua masalah pelik tersebut, saya sebagai anak bangsa ini masih berdoa agar persepakbolaan kita bisa segera lepas dari "lumpur hidup" ini. Saya tidak mau hanya menjadi saksi atas kejayaan bangsa lain dalam sebuah turnamen. Saya tak mau lagi kembali menyaksikan tangis sedih para pejuang timnas kita di partai final. Saya berharap semua konflik ini segera berakhir dan timnas kita bisa kembali berprestasi.

                                                "TERBANGLAH LAGI GARUDAKU"



"didedikasikan untuk semua pemain Timnas Indonesia dan seluruh pencinta sepakbola Indonesia"


( diponk )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar