Sabtu, 24 Agustus 2013

Hakekat Kematian

Selamat pagi... Salam olahraga (,")9

Beberapa hari yang lalu gue terlibat sebuah diskusi yang menarik soal kematian dengan kang Pura Krisnamukti (@rasjawa) di timeline. Diskusi itu tentang "mati sia-sia". Sebuah diskusi yang lain dari biasanya, karena biasanya kami suka ngobrol soal sepakbola dan keperawanan. hehehe..
Entah kenapa pagi itu gue niat banget bahas hal begituan, mungkin itu karena gue kurang piknik, jadi pikiran bawaannya serius mulu. #huftbanget

Kemaren Kang Pura menposting sebuah tweet yang isinya menyatakan bahwa kematian seseorang akibat dari minum miras oplosan itu adalah kematian yang sia-sia. Gue kurang setuju dengan hal itu, karena bagi gue nggak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Okelah kalo kematian itu disebut suul khotimah atau mati dalam keadaan buruk gue setuju, tapi kalo disebut mati sia-sia gue kurang setuju.

Ingatan gue langsung teringat akan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diceritakan oleh ustadz gue. Seperti kita semua ketahui, Nabi Musa pernah berguru kepada Nabi Khidir walaupun hanya sesaat. Waktu itu Nabi Musa mengikuti perjalanan Nabi Khidir ke sebuah negeri. Nabi Musa hanya diberi kesempatan untuk bertanya sebanyak tiga kali oleh Nabi Khidir. Karena ceritanya sangat panjang, kali ini gue cuma mau membahas satu hal saja, yaitu ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak laki-laki di sebuah kampung. Lagian kisah ini pasti kalian sudah tahu semua.

Ceritanya begini, saat berjalan melintasi sebuah perkampungan Nabi Khidir dan Nabi Musa berjumpa dengan beberapa anak kecil yang sedang bermain. Mendadak Nabi Khidir langsung menghampiri seorang anak laki-laki dan mencekiknya hingga mati. Melihat hal ini Nabi Musa kaget, dia langsung bertanya kepada Nabi Khidir kenapa dia membunuh anak itu. Nabi Khidir menjawab bahwa anak itu anak yang sangat bandel dan nakal, suatu saat nanti kalo sudah dewasa dia akan durhaka kepada orang tuanya dan berbuat kemaksiatan di mana-mana. Itulah sebabnya Nabi Khidir membunuh anak itu, dan kelak Allah akan menggantikannya dengan anak lain yang lebih baik.

Setelah pak ustadz selesai berkisah dia memberi kesempatan untuk tanya jawab. Gue langsung bertanya kepada beliau, kenapa Nabi Khidir memilih untuk membunuh anak itu? apa iya Allah begitu kejamnya hingga tidak memberi kesempatan seorang anak untuk hidup? bukankah anak itu belum melakukan dosa? kenapa menghukumnya sebelum dia melakukan dosanya? kenapa Nabi Khidir tidak memilih untuk mengangkatnya menjadi murid saja agar dia menjadi anak yang sholeh?
Pak Ustadz menjawab, banyak orang yang menafsirkan Allah begitu egois dalam hal ini, tapi sesungguhnya tidak. Apakah kematian anak ini sia-sia? jelas tidak. Allah itu Maha Sempurna, Dia terlalu sempurna untuk melakukan sesuatu hal yang sia-sia. Banyak yang menafsirkan dalam hal ini yang mendapat keuntungan hanyalah orang tuanya dan warga sekitar anak itu karena terhindar dari kemaksiatan yang akan dibuat anak itu kelak. Tapi sebenarnya Allah juga memberi keuntungan bagi anak itu. Seperti kita ketahui senakal-nakalnya anak-anak, dia tetap hanya seorang anak-anak. Karena jika seorang anak belum baligh maka dia belum mendapat dosa, lha wong sholat aja belum wajib kok apalagi hal lainnya. Oleh karena itu membunuh anak itu sebelum dia baligh berarti menghindarkan dia dari dosa yang (mungkin) akan dia lakukan saat dewasa nanti, jadi kemungkinan besar dia akan masuk surga. Apakah kematian anak itu sia-sia? tidak kan, dia juga mendapat keuntungan dari kematiannya.

Berdasarkan dari kisah itu gue juga berpendapat bahwa kematian orang akibat minum miras oplosan itu juga tidak sia-sia. Banyak yang berpendapat manfaat kematian itu bagi orang yang minum itu apa? ya mungkin aja kan andai saja orang itu tidak mati, setelah dia mabuk dia akan berbuat kemaksiatan lain yang lebih besar. Mungkin dia bisa memperkosa, merampok, atau bahkan membunuh orang lain. Jadi dengan mencabut nyawanya saat dia mabuk itu mungkin bisa menghindarkan dia dari dosa yang lebih besar lagi. Wallahualam.

Bagi gue sia-sia atau tidaknya sebuah kematian itu bukan tergantung dari siapa dia dan bagaimana cara dia mati, tapi itu semua tergantung dari apa yang terjadi setelah kematian itu. Jika setelah kematian itu kita yang masih hidup bisa mengambil pelajaran dari kematian itu berarti kematian itu tidaklah sia-sia. Soal kematian itu bermanfaat juga atau tidak bagi yang mati biarlah Allah yang menjawab. (sekian)

Salam olahraga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar