Kamis, 19 Juli 2012

WAJAH GELISAH PARA PENCIUM SAJADAH

     Hidup...Hanya sekali, bisa dinikmati, bisa dihayati, bisa dibiarkan mengalir apa adanya. Sadarkah kita bahwa hidup kita ini sebenarnya semu. Bayangkanlah kita ini bagaikan mainan yg dibuat dan disetting dari awal dan dibuat sedemikian rupa agar melaksanakan semua yang sudah ditentukan. Lalu untuk apa kita gelisah? untuk apa kita takut? untuk apa kita risau akan hidup kita kedepan nanti? Hei manusia!! Kemana Tuhanmu? tak yakinkah kau pada Dia? Hingga hanya karena masalah dunia kau seakan lupa padaNya.
     Sebut saja namanya Yono, dia teman satu kerjaanku. Sebenarnya dia tidak satu departemen denganku, tapi kami sering ngobrol saat di tempat kerja. Kita berdua sama-sama selenge'an, mungkin itu yang membuat kita nyambung. Menurutku Yono ini jauh dari kata "baik-baik", minuman keras sudah jadi hal biasa baginya. Namun ada satu ceritanya yang membuat hatiku seakan tak percaya, cerita ini tentang seorang teman lamanya.
     Suatu hari di rest area, aku dan Yono sedang ngobrol santai. Seperti biasa dia duduk sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang dipegangnya. Kami ngobrol ngalor- ngidul, hingga akhirnya dia bercerita tentang seorang teman lamanya.
"Di tempat kerjaku yang lama aku pernah punya seorang sahabat, dia satu bagian denganku. Namanya Bandi", kata Yono. Memang sebelum bekerja di tempat yang sekarang, Yono pernah bekerja di perusahaan lain. 
"Anaknya sangat baik, rajin sholat, dia juga pandai membaca Al Quran", lanjutnya sambil menghisap rokoknya.
     Aku sengaja tak berbicara, aku hanya menatapnya dan berharap dia melanjutkan ceritanya. Mata Yono menerawang jauh, dia seakan memendam sebuah kepedihan dalam cerita itu. Aku makin penasaran akan kelanjutan cerita itu, pasti ada sesuatu yang sangat dahsyat hingga bisa membuat seorang Yono yang selenge'an ini seakan merasakan kesedihan yang amat sangat.
     Sejenak kemudian Yono melanjutkan ceritanya, dia matikan rokoknya yang sudah habis ke asbak di depan kami. Sambil menyalakan batang rokoknya yang kedua dia mulai bercerita lagi.
"Bandi itu teman baikku, kami sering bertukar pikiran tentang banyak hal. Mulai dari masalah kecil sampai masalah yang besar, mulai masalah pekerjaan sampai masalah agama", kata Yono.
"Lantas apa yang terjadi padanya?", aku mulai tak sabar.
"Semua berjalan seperti biasa, hingga pada suatu saat Bandi mempunyai seorang pacar. Pacarnya non Islam, sebut saja namanya Rosa", jawab Yono.
"Setelah beberapa bulan berpacaran mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, inilah awal dari perubahan sikap Bandi. Suatu hari setelah selesai jam kerja saat itu kami berdua sedang berada di loker. kebetulan loker kami memang bersebelahan.", lanjut Yono.
"Yon, aku mau kasih kabar. aku akan menikah dengan Rosa bulan depan, aku harap kau mau datang ke pesta pernikahanku nanti", kata Bandi.
"Wah...selamat ya bro, aku turut bahagia atas berita ini, aku pasti datang ke pesta pernikahanmu", jawab Yono
"Tapi ada sedikit masalah yon...", kata Bandi sambil menundukkan wajahnya. Dia terlihat sangat berat untuk melanjutakan kata-katanya.
"Ada apa bro, masalah uang ya? aku bisa bantu kok walau cuma sedikit", kata Yono
"Bukan itu yon, kau tahukan aku dan Rosa berbeda agama itulah masalahnya kami tak bisa menikah jika kami berbeda agama", kata Bandi.
"Lantas bagaimana dengan rencana pernikahanmu sob?", tanya Yono dengan nada cemas. Pikirannya mulai tak menentu, dia mulai mengkhawatirkan temannya itu.
"Maafkan aku yon, aku tak bisa mencegahnya. Aku sangat mencintai Rosa, diapun sangat mencintaiku. Memang benar kata orang, cinta itu butuh pengorbanan..... Aku memutuskan untuk berpindah agama yon", kata Bandi dengan terbata-bata.
     Jawaban Bandi sontak membuat Yono kaget, jantung Yono seakan ditusuk dengan pisau yang amat tajam. Yono hanya terdiam mendengar kata-kata dari sahabatnya itu. Tanpa sadar air mata Yono mulai membasahi pelupuk matanya, batinnya seakan tak rela jika temannya harus melepas akidahnya. Yono pun akhirnya mencoba untuk meyakinkan lagi sahabatnya itu akan keputusannya itu.
"Apa kau yakin Ban? kenapa harus dengan dia? kau ini anak baik, pasti kau bisa mendapatkan gadis lain. Coba kau pikirkan lagi Ban, ini bukan perkara sepele", kata Yono kepada sahabatnya itu.
"Aku sudah mantab dengan pilihanku Yon, hatiku tak bisa jika harus berpisah dengan Rosa. Mungkin ini sudah menjadi jalanku, aku harus menerima semua ini", jawab Bandi sambil menerawang.
     Suasana saat itu menjadi sunyi, tempat kerja mereka mulai sepi rekan-rekan mereka yang lain sudah mulai pulang. Kemudian Bandi mengeluarkan sebuah sajadah dan sebuah Kitab Al Quran dari lokernya. Sajadah itu terlipat rapi, harumnya pun semerbak seketika sesaat setelah dikeluarkan dari loker itu, dan kitab Al Quran itu walaupun sudah mulai usang namun tetap terlihat anggun di atas sajadah itu.
"Yono, kau adalah sahabatku yang terbaik. Sajadah dan Kitab ini tak layak lagi bagi diriku yang hina ini, maukah kau menjaganya untukku?", kata Bandi sambil menyerahkan sajadah dan kitab itu kepada Yono. Yono tak mampu berkata-ka

3 komentar:

  1. lha rossa ne mrongozz ngono kok ponk wkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  2. Yg bikin penasaran saya bukan ceritanya ponk, tp siapakah yono sebenarnya? ┣┫Ū=D┣┫Å:Dª ┣┫Å=))ª

    BalasHapus