Jumat, 31 Januari 2014

Arisan Nikah

Suasana dusun Tegalrejo pagi itu mendadak gempar, Katno seorang pemuda tanggung berusia 25 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang parkir di Rumah Sakit Bersalin Harapan Ibu depan terminal itu dijemput paksa oleh aparat desa yang terdiri dari Mas Bambang selaku hansip desa, Pak Jono selaku Pak RT, dan Pak Bondan yang kali ini bertindak sebagai Pak RW.

"Bentar-bentar pak.. salahku opo? kok aku diperlakukan layaknya koruptor saja, batinku tersakiti pak", teriak Katno sambil gondelan di tiang depan rumahnya.

"udah kamu nurut saja, pokoknya kamu ikut kami ke kantor, eh ke rumah Pak Karman", jawab Mas Bambang sang hansip desa sambil mengayun-ayunkan pentungannya yang wujudnya mirip barangnya Bima.

Aku dan Gentho yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melongo. Dengan bekal titah perintah dari ibunya Katno akhirnya kami berdua turut serta menemani sobat kami Katno yang digelandang ke rumah Pak Karman.

"kira-kira Katno salah opo ya Mul?", tanya Gentho padaku saat dalam perjalanan ke rumah Pak Karman.

"wah.. aku yo ndak mudeng Tho, setahuku Katno itu kan naksir berat sama si Novi anaknya Pak Karman", jawabku.

"jangan-jangan Novi hamil Mul!!"

"Huuss... ngawur kowe Tho, Katno itu anaknya lihat pusernya suwargi mbah Mangun aja udah gemeteran, mana mungkin dia bisa ngehamilin Novi", jawabku sambil berkelakar.

* * *

Suasana rumah Pak Karman hari itu agak sedikit lebih ramai dari hari biasanya. Saat aku sampai disana di dalam rumah Pak Karman sudah ada Pak Karman yang sedang ngobrol dengan Pak Kiyat tetanggaku yang berprofesi sebagai polisi berpangkat Letnan 3. Selain Pak Kiyat aku juga melihat ada empat pemuda lagi yang belum aku kenal. Nampak empat pemuda itu cuma duduk sambil menundukkan kepala tanpa berbicara sedikitpun. Aku dan Gentho semakin bertanya-tanya. Katno, pak RT, dan pak RW langsung masuk ke dalam ruang tamu sedangkan Mas Bambang tetap di luar sambil menahan aku dan Gentho agar tidak ikut masuk.

"ada apa ini Tho.. kowe kenal ndak sama orang-orang itu?", tanyaku pada Gentho sambil pasang telinga mendengarkan percakapan di dalam rumah.

"aku yo ndak mudeng Mul, tapi kayaknya aku kenal sama satu orang di dalam. Yang pake kaos Rolling Stones warna putih itu Si Erik pacarnya Novi", jawab Gentho sambil mengintip di sela-sela kaca jendela.

"Adek-adek sekalian, kalian semua dikumpulkan disini karena satu hal. Saya disini mewakili Pak Karman sebagai bapaknya dek Novi mau memberikan sebuah berita yaitu saat ini Novi telah Hamil. menurut kami kalian berlima ini ada andil dalam hamilnya Novi ini", Pak RT menjelaskan permasalahan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Katno langsung melongo mendengar kata-kata Pak RT, aku dan Gentho pun saling pandang dan tentu saja cuma bisa melongo seperti model meme "aku rapopo".

Pak RT menjelaskan duduk permasalahannya, beliau berharap ada yang mau mengakui atas kehamilan Novi. Kalo sampai tidak ada yang mau mengakuinya maka dengan terpaksa akan diadakan prosesi pengundian nama dan yang namanya keluar mau tak mau harus menikahi Novi, kalo dia menolak maka akan berurusan dengan Pak Kiyat selaku aparat penegak hukum.

"Buajinduul...!", tiba-tiba Katno misuh-misuh sambil berdiri.
"lha trus hubungan saya dengan masalah iki opo pak? lha wong saya ini lihat udelnya Novi aja belum pernah kok bisa-bisanya dituduh menghamili", Katno mencak-mencak sampai bibir dowernya menghujani tikar di bawahnya dengan hujan asam.

"Heh Katno, kamu bisa diem ndak? kamu mau bibir dowermu itu tak bedil biar tambah ancur!", Pak Kiyat menghardik Katno sampai Katno mlungkret lagi.

Katno duduk lagi, tiba-tiba dari dalam rumah Novi keluar sambil ditemani oleh ibunya. Wajah Novi terlihat pucat dan lesu, matanya sembab, nampaknya dia habis menguras air matanya sampai tetes terakhir.

"Mas Katno ndak salah pak, dia ndak ada hubungannya dengan masalah ini, malah selama ini Mas Katno udah baik banget sama Novi. maafin Novi ya mas..", Novi membela Katno sambil tersedu, wajahnya tetap menunduk tak kuasa menatap Katno.

"lha piye to nduk, bapak kira kamu selama ini pacaran sama Katno", Pak Karman nampak bingung.

Katno langsung nggeloyor keluar rumah Pak Karman, sambil misuh-misuh dia mengajak aku dan Gentho pergi dari rumah Novi. Sepanjang perjalanan dari rumah Novi mulut Katno tak henti-hentinya misuh-misuh. Aku dan Gentho juga tak mau kalah, kami bertiga malah seperti sedang main ABC 5 dasar dan diminta untuk menyebutkan nama-nama hewan.

Besoknya aku mendengar kabar dari Mas Bambang hansip bahwa yang namanya keluar dalam "arisan nikah" kemarin adalah Erik pacarnya Novi. Belakangan aku baru tahu bahwa kehamilan Novi itu disebabkan oleh Erik dan ketiga temannya. Waktu itu Erik sedang minum oplosan dengan ketiga temannya, setelah mabuk Erik lalu menggauli Novi di rumahnya dan parahnya setelah itu dia malah mengajak ketiga temannya untuk joinan. Namanya juga orang mabok, kelakuannya pasti ada-ada saja, Novi pun tak kuasa menolak dan hanya bisa pasrah.

* * *

Sebulan kemudian akhirnya Novi dan Erik menikah, dia pun sudah pindah ke rumah Erik di kampung sebelah. Kehidupan di desaku kembali normal seperti sedia kala. Tak ada yang berubah; aku, Gentho dan Katno masih tetap menjomblo. Tapi kini ada satu hal baru yang selalu membuatku dan Gentho tertawa, setiap kami bertiga mengadakan acara minum ciu bersama kami disuguhi satu acara baru, yaitu Katno yang latihan tinju melawan pohon pisang sambil misuh-misuhi Novi dan keluarganya.

5 komentar:

  1. Aku wes tau..aku wes tau..untung bukan namaku seng kluar..itu dulu lho..saat masih jahiliyah..itu jg goro2 suara ambulan..ciu..ciu..ciu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha.. sing mangan wong okeh, sing mbayar wong siji :D

      Hapus
  2. Haha "Buajinduul.." Misuh-misuh khas Wonogiri.

    BalasHapus
  3. Tep iki mesti nyindir cah Lebak Bulus

    BalasHapus