Rabu, 08 Januari 2014

TRAGEDI KIMIA

Siang itu sangat cerah, beberapa anak STM dengan baju seragam pramuka lengkap ala Laskar Pelangi terlihat bermain sepakbola di lapangan basket.
Tiba-tiba dari depan pintu kelas ruang 15 seorang anak yang saya lupa siapa namanya berteriak; "woy.. gurune teko!". Mendengar teriakan itu anak-anak yang bermain bola tadi lantas langsung berlari sipat kuping, nunjang palang, menerjang semua halangan untuk kembali ke kelas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

*di dalam kelas*

Guru kimia (alm. sopo jenenge lali aku) sudah ada di dalam kelas, beberapa anak yang tadi bermain bola juga sudah duduk di bangkunya masing-masing dengan khidmat dan bersahaja. Siang itu sangat panas, semakin bertambah panas karena kami habis bermain sepakbola. Kami mendengarkan pelajaran sambil kipas-kipas memakai buku tulis.

Tiba saatnya pak guru memberi pertanyaan bergilir kepada semua murid. Saat giliran pertanyaan tiba kepada seorang anak yg sedang kipas-kipas entah kenapa soal yang diberikan begitu sulit, seingatku dulu soalnya tentang rumus untuk menciptakan perdamaian dunia lewat perkawinan silang manusia dan dugong. Anak itu tentu sangat kebingungan, tapi dia tetap santai sambil kipas-kipas cari angin, pacar lepas cari yg lain (malah pantun *dikeplak*). Sebut saja anak itu Neza Yuli Anggara (bukan nama sebenarnya_red).

Melihat anak kampret itu (kalo ini baru nama sebenarnya) tidak bisa menjawab soal tersebut pak guru terlihat kesal, mungkin saja dia kesal karena dia juga sedang memikirkan harga BBM dan LPG yang semakin melambung tinggi, entahlah yang pasti pak guru itu sangat marah. Tiba-tiba dia berteriak "KALO TIDAK BISA JAWAB NGGAK USAH KIPAS-KIPAS", mendengar hal itu sontak membuat kami sekelas tertawa terbahak-bahak dan anak itu terlihat murung bagai anak kucing yang keceplung got.

(diponk)

2 komentar:

  1. RAWRRR ceritanya! Amazing, kamu bisa bikin cerita se-ANEH ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengalaman pribadi iki mbak, bocah kuwi kancaku sebangku pas STM. hehehe

      Hapus