Jumat, 31 Januari 2014

Bengawan Sore #3

Minggu pagi, matahari sudah sepenggalah tingginya. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat jam di layar HPku. "wis jam 9", gumamku.
Kalo saja hari ini aku tak ada janji ketemuan dengan teman-temanku di Solo, pasti aku lebih memilih untuk tidur lagi. Selesai mandi aku lalu berpamitan kepada ibuk.

"Buk.. aku mau ke Solo, ada janji ketemuan sama temen lamaku dulu".

"oalah dik.. dik, kowe iki kalo pulang malah ndak pernah ada di rumah. kapan kowe ngajak ibukmu ini dolan", jawab ibukku sambil meneruskan kegiatannya menjahit baju.

"iya.. iya.. ibukku sayang, nanti tak beliin oleh-oleh", sahutku sambil nggeloyor pergi. Kuambil kunci mobil yang tergantung di samping buffet TV lalu bergegas ke garasi.

"ati-ati di jalan le..", teriak ibuk dari dalam rumah.

* * *

Hari sudah sore, arloji di tanganku menunjukkan pukul 16.00. Beberapa botol bir dan beberapa bungkus makanan nampak berserakan di ruang tamu rumah Zamil, temanku. Aku, Zamil, Adit, dan Dhani masih seperti dulu, tak ada yang berbeda. Mungkin cuma Zamil saja sekarang yang agak lebih dewasa, dia sudah berkeluarga.

"aku pulang dulu ya bro, wis sore kih..", kataku pada Zamil.

"halah.. baru habis 6 botol udah mau pulang wae kowe ki", sergah Zamil.

"aku janji ndak pulang malam-malam je sama ibuk"

"woalah dik dik.. kamu itu udah gede jembuten masih aja kayak bocah kemaren sore", timpal Adit sambil tertawa ngakak.

"asu! tampang boleh preman bro, tapi harus tetap hormat sama orang tua. hahaha..", kilahku sambil mucu-mucu.

Segera kupacu mobilku kembali ke Wonogiri. Jalanan kota Solo sore itu agak padat, dari rumah Zamil di daerah Manahan sampai di Gajahan saja memakan waktu 20 menitan. Sembari menunggu pesanan martabakku selesai iseng-iseng kutelpon Shinta.

"halo Shin, lagi ngopo kowe?", tanyaku memulai obrolan.

"eh Mas Dika, tumben telpon. biasa mas, ini lagi di rumah nemenin anak main", jawab Shinta.

"hooo.. emange Gara belum pulang?"

"Mas Gara pulange malam, biasane nyampe rumah udah jam 9-nan. emang Mas Dika lagi dimana sekarang?"

"ini lagi beli martabak buat ibuk di Gajahan, bentar lagi juga mau pulang"

"nah.. mumpung Mas Dika dari Solo mbok sekalian mampir ke rumahku, kan udah lama mas nggak main kesini".

"oke deh ntar tak mampir bentar", jawabku nglegani Shinta.

"oiya mas, mbok sekalian aku dibeliin creepes di gajahan, yang rasa duren ya. hehehe"

"woo.. maunya, kamu ini dari dulu ndak berubah-berubah ya, masih manja aja kalo sama aku"

Shinta cengengesan di ujung telepon, dalam hati aku sedikit merasa senang, Shinta yang kukenal dulu seakan belum hilang. Kembali memori-memori lama berputar di benakku, memainkan warna-warna lucu yang kadang membuatku tertawa sendiri.

* * *

Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat ketika aku sampai di rumah Shinta di daerah Jombor Sukoharjo. Rumah yang nampak tak berbeda bagiku, dua pilar besar di depan sebagai penyangga, serta halaman depan yang dilindungi oleh tiga pohon cemara sebagai pengayomnya. Mungkin yang sedikit berbeda cuma warna pagar rumahnya saja, seingatku dulu pagar ini berwarna hijau tua, sekarang sudah dicat menjadi warna biru tua. Aku sedikit tersenyum saat sampai di depan pagar itu, teringat lagi masa-masa dulu, di depan pagar inilah aku selalu mencium kening Shinta setiap mengantar dia pulang. Waktu cepat berlalu.

"Masuk sini mas", tiba-tiba suara Shinta membuyarkan lamunanku, dengan senyum khasnya yang sama sekali tak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Shinta sore itu nampak cantik dengan baju Bali warna putih dengan gambar papan selancar warna biru.

"Nih creepes pesenanmu, ndang dipangan keburu adem ndak enak", kataku sambil memberikan bungkusan kotak berisi creepes rasa durian kesukaannya.

"makasih mas, bayar ora iki?", tanyanya cengengesan.

"bayar dong, masa iya aku ngutang di penjual creepes", jawabku sedikit bercanda. Shinta tertawa mendengar leluconku, dia lalu memanggil anaknya. Namanya Tian.

Aku dan Shinta ngobrol banyak hal sore itu sambil melihat Tian bermain di halaman depan rumah. Hal-hal kecil di masa lalu yang selalu membuat kami berdua tertawa jika mengingatnya. Kenangan, hanya itu yang tersisa di antara kita.

"Shin, ngomong-ngomong nama lengkap Tian kuwi sopo?"

Shinta terdiam sejenak, hatinya seakan ragu untuk menjawab pertanyaanku.
"Christian.... Mahardika", jawabnya singkat. Shinta agak terbata menjawabnya.

"hmmm.. kok nganggo Dika segala kayak jenengku. hahaha.."

"harapanku sih supaya dia nanti mirip sama ayahnya... kamu mas".

Kata-kata Shinta membuatku terdiam, benakku langsung kembali mengingat kejadian di Lor Inn 6 tahun lalu. Kejadian yang ingin sekali aku lupakan, rasa berdosaku seakan tak pernah padam hingga saat ini. Kuakui aku khilaf waktu itu, memang aku dan Shinta saling mencintai, tapi dia sudah menjadi permaisuri orang lain. Kepalaku tertunduk, sejenak kemudian kupandang Tian yang sedang bermain di halaman depan rumah.

"Kamu ini ngawur wae Shin.. ojo ngomong sing ora-ora"

"aku ndak ngawur mas, asal mas tahu aku dan mas Anggara itu nggak pernah pake kontrasepsi atau KB, dua tahun aku menikah tapi aku baru hamil setelah kejadian itu. Sejak kelahiran Tian 5 tahun lalu aku juga ndak kunjung hamil lagi, aku pikir mas Anggara itu mandul".
Shinta menatapku dalam-dalam, mata itu seakan menelanjangiku yang masih seakan tak percaya dengan kenyataan ini.

"Aku ndak nyesel mas, aku juga ndak bakal nuntut apa-apa sama Mas Dika. Aku justru bahagia, paling tidak ada bagian dari Mas Dika yang masih bisa kumiliki, kupeluk dan kusayangi hingga detik ini"

Kupandangi Tian sepanjang sore itu, rambut lurusnya memang lebih mirip denganku daripada dengan Shinta ataupun Anggara yang berambut agak ikal. Matanya yang sendu seperti orang yang mengantuk itu juga sama seperti milikku. Kuperhatikan Tian yang sedang bermain bola, dia selalu menendang bola menggunakan kaki kirinya, sama persis seperti caraku.

"Dia memang anakku".

bersambung kesini→Bengawan Sore #4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar