Sabtu, 11 Januari 2014

Kebo Nyusu Gudel

Suasana pagi itu seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan belajar mengajar diawali dengan doa. Doa khusyuk dipanjatkan oleh sekian murid yang masih polos, berharap mendapatkan ilmu yang banyak (jane yo mung clingak-clinguk). Hormat kepada Sang Merah Putih menjadi kewajiban. Meskipun petinggi-petinggi kita malah ngidak-idak dengan attitudenya.

Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi pembuka pelajaran hari ini. PR pun dikeluarkan para murid yang masih ingusan itu. Kemudian kami pun membahas soal satu persatu, dalam salah satu soal tercetak pertanyaan sebagai berikut;

"Apa yang harus dilakukan agar tanah tidak longsor?"

Seharusnya jawaban dari pertanyaan itu adalah terasering, tapi pagi itu saya dibuat heran dengan jawaban dari salah satu anak. Dia menjawab dengan kepolosannya, "Kalo dipondasi boleh tidak pak?"

"HAHAHAHA...."

Saya pun tertawa, kemudian saya bertanya lagi "Kenapa dipondasi?" Dia menjawab, "Karena bapak saya kuli bangunan pak".

Lucu, tapi terselip sebuah pesan bahwa seorang anak yang masih polos bisa menjawab dengan jawaban yang sebetulnya salah, tetapi dalam ketidaktahuannya dia bisa menjawab pertanyaan itu, dan jika dilogika jawabannya bisa juga seperti itu.

Hal ini justru memberikan saya sebuah pelajaran bahwa suatu masalah bisa diselesaikan dengan pengalaman dari sekitar kita, dan ketidaktahuan pun juga bisa terselesaikan. Seperti kata pepatah Jawa "Kebo nyusu gudel", yg artinya "Orang tua berguru kepada orang yang lebih muda". Tak perlu malu, ilmu itu bisa didapat dari mana saja.



*postingan ini saya buat berdasarkan cerita dari teman saya yaitu Neza Yuli Anggara yang saat ini menjadi guru wiyata bakti di sebuah sekolah dasar di Karanganyar*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar